You Do Something About It!

Saya ga begitu suka nonton film juga drama. Tapi drama ini bikin saya pengen nonton terus dan sukses nonton dari 01×01 sampai 09×24. Drama tersebut adalah How I Met Your Mother.

20140404-003154.jpg

Tiap nonton serial ini, saya suka bercermin ke kehidupan sendiri. Pertemanan bff yang selalu berakhir gagal. Temen SD – SMP, sekarang entah kemana. Gara-garanya, pas SMA saya ga lagi tinggal di rumah orang tua. Jadi jarang banget ketemu mereka dan main-main lagi. Despite I want keep around them but I did nothing.

Temen SMU juga begitu. Masih keep contact but with low frequency. Padahalmpas kelas tiga, perpisahan di Ujung Genteng pake acara nangis-nangisan. Temen di Pesantren juga yang masak bergiliran tapi makan bisa habis kurang dari lima menit, sampai sekarang udah jarang ketemu, malah bisa dibilang ga pernah contact mereka lagi.

Temen kuliah, my very best friend, dia menjauhi semua orang with no reason. Nikah ga ngasih tau dan ga ngundang-ngundang. Tinggal satu temen yang dari SMU sampai kuliah terus bareng. Eh dia ga disangka tinggalin Indonesia dan tinggal di Eropa. Sementara temen yang satu lagi, pulang ke kampung halamannya dan menjadi PNS di sana. So here I am, I am all alone.

Di dunia kerja, I vow not to do this mistake all over again. I still keep contact with my (ex) colleagues and I will always do that. Dapet temen dr internet: bloggers dan juga temen2 jalan. Bikin juga group kecil tapi gagal, I ruined it. That’s why I will never ruin it anymore by doing the silly thing. I prohibit myself to fall in love with my friend, unless I really want keep her forever in my life.

So… This is my friendships story. Gampang banget buat lupain temen. Pas deket ngerasa seperti I don’t know how to live without them. Tapi sekarang rasa itu telah pergi, meski di Facebook mereka lengkap. Hanya satu yang bisa menjaga pertemanan: you do something about it! Simply call them, setup a meeting, just chatting while sip a cup of coffee or karaoke. Pay the bills, sometime, if have enough money. And the most important thing is that marry the girl that you’d like to spend the rest of your life. Since, she will be your best friend while your friends are not around, anymore.

Decomposition. Masalah segunung! Apa pemecahannya?

Dekomposisi adalah satu kata yang sangat sulit untuk dilakukan. Karena, bukan hanya butuh kemauan tapi untuk melakukan dekomposisi butuh otak yang encer tapi ga seencer kecap asin. Kalau otaknya kental atau bubuk seperti susu krim, yang dibutuhkan adalah kesabaran dengan tetap mendekomposisi tapi jangan sambil memamah biak.

Masalah segunung! Apa pemecahannya?

Jangan liat segunungnya! Tapi mari kita dekomposisi. Semua hal bisa didekomposisi kecuali Tuhan. Karena Dia Maha Esa. Bukan bagian dari kumpulan dan bukan kumpulan dari bagian.
Namun kalau masalah, pasti bisa didekomposisi. Bahasa Indonesianya dekomposisi ini, adalah memecahkan. Hehe… jadi kenapa masalah harus “dipecahkan”? Emang harus “dipecahkan” menjadi bagian kecil-kecil untuk dianalisis.

Baca jurnal ilmiah, tidak sedikit yang menawarkan dekomposisi terhadap masalah yang sedang dibahas. Orang awan pasti lihatnya gunung masalah. “Gile tuh masalah kayak gitu susah banget ditemukan solusinya!” Tapi si penulis menyederhanakan masalahnya dengan memisahkan (pisah dan pecah mirip kan ya?) mana yang masalah dan mana yang bukan masalah tapi sering dianggap masalah sama orang awam. Kemudian mencari penyebab masalah ini dengan cara memecahkannya kecil-kecil. Oh si ini berkontribusi ngasih masalah segini. Kalau si itu sedikit aja ngasih masalah. Pemecahannya, ga usah melakukan big motion, tapi cukup misal 20% saja. Karena, biasanya 20% ini menghasilkan 80% masalah.

Di kehidupan kerja gw, misalnya obligasi perusahaan A itu memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan pemerintah punya. Perbedaan imbal hasil itu didapat dari mana? Nah lalu kita dekomposisi, ada sumbangan dari credit profile (rating), management, tenor, likuiditas, dll. Nah setelah dipecahkan gini, itung deh satu-satu penyebab masalahnya dan ketemulah nanti agregat akibat dari penyebab masalah ini.

Di saham, MSCI pernah persentasi pas bulan puasa. Mereka mendekomposisi return saham dari misalnya style, country dll lah… Nah ini membuka mata saya, bahwa mendekomposisi masalah adalah KUNCI MASTER!!!!

Nah, dalam kehidupan sehari-hari juga, hal ini bisa diterapkan. Silakan dicoba!!

Oh God Why?!

“Lucu” aja.

Di hari kerja terakhir buku ijo saya akan kadaluwarsa, saya minta izin untuk ngurusin buku ijo ini. Semua dokumen sudah lengkap bersama fotokopiannya. Sudah datar secara daring pula untuk booking jadwal proses pembuatan buku itu.

Eh ternyata, di pemeriksaan pertama, saya tidak lolos. Bukan orang kalah di filter pertama apapun, sehingga ketika ini terjadi saya merasa sangat dijengkelkan. Hal kecil karena nomor RT alamat rumah saya berubah sehingga alamat di KTP tidak cocok dengan Kartu Keluarga yang sudah memasukan alamat baru. Padahal kan tinggal lihat saja tanggal penerbitan terbaru mana, ya itulah yang dijadikan data terbaru. Baiklah! Saya pulang kandang, bikin KTP baru sekalian bikin e-KTP yang pengadaannya, sama dengan pengadaan lainnya, selalu bermasalah.

Hal kedua ditanya, kenapa menggunakan Ijazah Sekolah bukan Akte Lahir. Saya bilang, kan persyaratannya Akte Lahir ATAU Ijazah. Jadi kalau saya bawa Ijazah ngga salah. Ternyata enggak bo. Dia tetep tanya Akte Lahir. Saya bilang, ada di kampung saya dokumennya. Terus kata dia, ya udah pakai Ijazah juga bisa. Saya: GOD!!!

god Continue reading

Leveraging The Limitation

Kayak orang gila pas nonton Kick Andy ketika Andy interview Gayatri @WailisaGayatri yang bisa sebelas bahasa dan juga memiliki pemikiran yang lebih dewasa dari orang yang sudah dewasa. Padahal usianya masih SMA. Bahasa tubuh dan gaya ngomongnya… manner banget dan incredible!! Bangga plus terharu, juga senang ketawa dan tepuk tangan. Koplak eh? Nonton 1 liter of tears ga bikin saya meneteskan air mata. Beda, kalau bangga dengan kesuksesan orang lain, saya bisa terharu biru…

Dia bilang cara belajar bahasa ada tiga: belajar dari buku, ngomong di depan cermin dan nonton pelm atau lagu menggunakan bahasa tersebut, diskusi dengan native via internet (eh ada empat ya, au ah!).

Dia orang daerah. Tepatnya Maluku, brooo… Maluku adalah daerah dengan PDRB per kapita terendah di Indonesia. Bisa dibilang secara kasar, provinsi termiskin di Indonesia. Di dearah gini, bayangkan aja ada ga sih buku-buku pelajaran bahasa asing dari sebelas negara? Kalaupun ada, apakah bisa mendukung proses self-learning-nya?

Momen yang paling menyentuh pada saat Kick Andy menayangkan kehidupan sehari-harinya dan keluarganya. Rumah orang tuanya broooo…. Sederhana banget. Banget! Anak jenius ini duduk di lantai ruang tengah yang well… sempit bro! Lalu buka laptop terus dia ngomong di depan cermin yang disenderkan ke dinding. Jadi sambil buka laptop bisa langsung ngelirik ke cermin sambil spelling. Sambil buka laptop juga, sambil diskusi sama orang native via internet.

Nah, sekarang di daerah “termisikin” ini, bisa bayangin ngga gimana koneksi internetnya. Di Ibu Kota Negara aja, bahkan di wilayah ring satu, banyak yang ngeluh dengan koneksi internet, gimana lagi di Maluku sono… Di Jakarta ngeluh juga dipake buat apaan sih? Mostly ga produktif. Beda, cewek smart ini bisa me-leverage koneksi internet untuk meningkatkan kemampuan bahasanya. Nah bisa dibayangkan kan bagaimana kalau keluarganya berkecukupan?

Senior saya di kampus, orang tuanya bisa dibilang kaya. Hampir setiap mata kuliah, kata temen kuliahnya yang sekarang jadi Chief Economist Danareksa Research Institute, dia beli buku tambahan sebagai bahan tambahan referensi. Hasilnya, ya jadinya lebih pinter dibandingkan temen-temen lainnya yang hanya mengandalkan dari buku referensi Perpustakaan. Orang ini adalah Prof. Roy Sambel. Salah satu temen saya juga, memanfaatkan “kecukupuan” orang tuanya untuk me-leverage kemampuannya. Dia sudah jadi PhD di Adelaide, Risti Permani. Mungkin, ga banyak anak dari keluarga berkecukupuan yang bisa outstanding dalam hal pendidikannya. Hal ini yang bikin saya kagum dari Gayatri. Hanya dengan fasilitas yang terbatas, dia bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan kemampuan dirinya di level top dunia.

Orang tuanya pasti bangga. Atau bahkan, kayak bokap gue, pas saya nulis tentang ekonomi dan pasar modal di koran, dia ga ngerti sama sekali bahasan di tulisan saya. Bapaknya Gayatri ini pembuat stempel yang “tempat kerjanya” di trotoar pinggir jalan. Mungkin kegiatan Gayatri yang bergaol di dunia internasional ga dimengerti bokapnya. Tapi… I believe, bapaknya ga pernah mengarahkan dia biar jadi apa dan melarang kegiatan apapun. Instead, mendukung apapun yang menjadi passion anaknya. Gatau sih itu asumsi saya aja.

Nah itu yang bikin saya jadi penasaran: bagaimana sebenernya orang tuanya mendidik anak menjadi such a genius girl!

Every single day is a blessing

Orang yang menganggap tiap hari baru adalah sebuah berkah memiliki sudut pandang lain dalam hidupnya. Biasanya diidap oleh orang yang memiliki probabilitas meninggal yang tinggi setelah mengalami kejadian tertentu yang menyelamatkan jiwanya atau sedang mengidap penyakit yang membuat dokter tidak bisa mengestimasi sisa waktu hidupnya. Tapi sebenarnya, every single person doesn’t know when her/his life will be end, termasuk yang sehat.

Steve Jobs, setelah divonis penyakit kanker kalau tidak salah, cara pandang dia terhadap hidupnya menjadi berubah. Setiap hari adalah berkah buat dia untuk merealisasikan cita-citanya. Hasilnya, kita bisa merasakan sendiri.

Seorang teman juga begitu. Mini bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan di jalan tol. Namun alhamdulillaah dia selamat. Setelah kejadian itu, dia tidak mau lagi naik angkutan umum tapi menggunakan kereta api. Namun di suatu pagi di awal pekan, kereta yang dia tumpangi juga berpotensi untuk celaka. Ada orang jahat yang menanam dua balok di atas jembatan rel kereta api yang tingginya mungkin lebih dari 20m. Alhamdulillaah sang masinis melihatnya dan mengerem sehingga kecelakaan kereta api jatuh ke sungai bisa dihindari. Dia kesiangan masuk kantor di hari itu.

Kata teman-teman yang lain, dia dulu tidak mau ngobrol sama orang di bawah levelnya. Namun berbalik 180 derajat, kali ini dia sangat baik dan bukan cuma ngobrol tapi bisa bercanda ria dengan siapapun. It is like, I should be dead on that day but Allah give me more chance to life. 

Seharusnya, every single day is a blessing berlaku bagi semua orang. Tidak ada yang tau kapan kita akan meninggal. Tiap hari adalah perpanjangan usia kita yang harus diterimakasihi dengan berbuat baik kepada siapapun.

Berbuat baik di dunia jauh lebih baik dibandingkan berbuat baik di akhirat. Di surga, semua orang berbuat baik. Tetapi di dunia, orang yang berbuat baik akan spesial di mata Allah. Jika di dunia ada sebuah masa berbuat jahat adalah mainstream maka orang berbuat baik akan menjadi alien.

Buat hidup, saya juga ingin berubah. Setelah Uje meninggal, saya sedih dan jadi memikirkan, cara meninggal seperti apa yang ingin saya pilih: di Rumah Sakit bertahun-tahun diinfus, di jalan raya, di medan perang, kesetrum listrik, dibunuh? Ngga ada yang mending. Dari pada mikirin cara mati, lebih baik mikirin cara hidup mana yang akan saya pilih: menjadi orang baik sekalipun menjadi alien. Susah! tetapi setiap keberhasilan menjadi orang baik, akan selalu dirayakan!

Tulisan Terakhir Tentang Politik.

Hehe..

Tidak pernah tertarik politik. Dulu jaman SMU, saya tinggal di salah satu pesantren pimpinan NU terbesar di kota tempat saya tumbuh. Dan di situlah awal mula politik menghampiri. Tau lah, kalau NU pasti partainya PKB. Bendera PKB berkibar di sekitar pesantren. Semua temen-temen saya pasti tau lah kalau kita yang tinggal di situ — ada banyak pelajar SMU yang “nyantri” (oh istilahnya ga cocok banget buat saya) di situ — adalah berpartai resminya NU di bawah GusDur, alm. Temen-temen saya jadi rada kagok kalau ngomongin “kekurangan” GusDur di depan saya. Heuheu… Saat itu banyak banget yang ga suka sama dia, termasuk teman-teman paling deket. Diledekin melulu. Tapi ya… kita tetep bergeming, hehe… Dan terakhir sampai GusDur, alm, dilengserkan oleh lembaga yang mengangkatnya, kita tetep setia mendukung GusDur, alm, ga pindah mendukung sempalan partai, saya udah lupa tuh waktu itu kebagi dua terus kebagi lagi.

Strategi politik sebulan sekali dilaksanakan di Masjid pesanteren, malam-malam. Mendengar laporan dari daerah yang jauh di pedalaman sana dan strategi apa yang harus dilakuan. Dan para santri pun ikutan, nonton sambil terkantuk-kantuk sekaligus nungguin sisa cemilan, “halawa”, yang bisa diperebutkan macem orang-orang yang ga makan seminggu ketika meetingnya berakhir. Ga terlalu tau keluarga GusDur, tapi yang saya tau, nama jalan tempat Pesantren al-Barkah (el-Barca biar gaya) itu adalah kakeknya, Hasyim Asyari, eh bener ga tuh?

Apa yang menjadi “izzah” bangga “nyantri” di sana? Meskipun banyak waktu dihabiskan siang buat belajar, sore buat “ngaji” sampai malam dan subuh, prestasi akademik di sekolah tetep terjaga. Juara umum di SMU nomor 1 di kota saya sering diraih sama “Mamang” dari el-Barca. Di angkatan saya, dialah Mang Herman. Tapi ya saling berebutan dengan Mang Ilan dari daerah penghasil beras terpulen di Indonesia dan Rein dari perbatasan Purwakarta. Ya, saya ga bodoh-bodoh amat juga sih. Di el-Barca, panggilan antar sesama pake “Mang”. Nah tau kan sekarang alasannya kenapa panggilan saya “Mang”? hehe…

Darah saya emang kental NU, bahkan Mamah pernah bilang, nanti kalau nikah sama sesama NU lagi. Dan Mama (Kyai) pernah berpesan, jangan pernah lupakan NU! Sampai kuliah di IPB, gila, banyak banget “aliran”, beberapa menyebut “pergerakan”, sounds legit?! Banyak yang ngajakin ngaji, haha… Padahal bayangan saya mahasiswa ketika lulus SMU adalah rambut gondrong, baju lusuh, tapi ga ngerokok dan ga mabok… Ini malah diajakin ngaji. Well, ternyata “ngaji” atau biar gaya pake bahasa Arab disebutnya “halaqah” di kampus, di mata saya sangat “berani”. Di el-Barca, yang berani membawakan materi tafsir al-Quran hanya Mama. “Aa”, panggilan pengajar muda, cuman berani sampai membawakan materi hadith. Eh di kampus, mahasiswanya sangat berani menafsirkan al-Quran. Well…

Karena di kosan saya, banyak orang PKS, jadinya ikutan ngaji PKS. Hehe… Tapi saya tidak berniat masuk partai. Punya dasar memahami apakah ajaran dari aliran ini sesat atau tidak. Ternyata tidak sih. Ga ada salahnya dengan halaqah dan berbuat baik sesama masyarakat sekitar serta demo menyemangati sesama umat muslim yang secara kemanusiaan tertindas dan dijajah Jio*iz Yzreal. Cukup sampai di situ saja.

Masuk dunia kerja, ngobrol sama temen saya yang jurnalis Republika. Dia pinter pas SMU. Well, temen-temen saya sih pinter-pinter sih ya… :P. Dia kuliah di ITB dan ga mau ngobrolin politik. Dia, orang yang paling seneng baca buku. Dan tebakan saya ga salah, kalau dia sudah punya Amazon Kindle sebelum saya. Sejak saat itu, saya berhenti ngobrolin politik ala warga di warkop. Better, fokus pada apa yang kita kerjakan. Politikus dan partainya juga toh ga peduli sama kita, kenapa kita peduli sama mereka? Ga mikirin politik bukan berarti ga peduli sama negara. Indonesia punya lebih dari 200 juta kepala. Percayakan saja pada sebagian dari 200 juta kepala itu yang mau mikirin politik, dan saya mikirin yang lain, seperti ekonomi dan keuangan, misalnya. Mikirin gimana saya sendiri ga jadi beban bagi negara, agama, lalu-lintas dan masyarakat sekitar. Sesimpel itu aja. Kalau Polisi nilang karena butuh duit padahal saya ga salah. Ya… anggap aja itu hama. Tetep harus dibasmi dengan ga ngasih duit ke Polisi itu, karena malu-maluin Polisi. Kalau bisa ngajakin orang lain, adik sendiri misalnya, untuk ga jadi beban buat negara dll, itu sudah prestasi.

Media, kalau di pasar modal itu seperti broker yang membanjiri info tentang pasar setiap hari. Ya itu tugasnya mereka. Tapi sama dengan info dari broker, berita dari media perlu kita saring, karena tidak sepenuhnya menggambarkan situasi tertentu. Kalau broker, tujuannya, biar kita panik di saat market bagus, sehingga ada call untuk sell. Dan ketika market lagi heboh, broker akan memberi silver lining, biar kita beli. Kalau media, bisa jadi ada maksud dari yang punya. Hell yeah… ada tiga media besar yang dikuasai politikus. Salah satu yang terbesar yang semua perusahannya dinamain tiga huruf itu, sangat tidak saya sukai. Hehe ini menyangkut “dendam” pribadi sama Manajemennya yang super duper sombong. Orang deketnya, well, direktur-direktur anak perusahaannya pun takut sama dia, kelakuannya ancur. Cuman saya aja, cuwek, haha… Dihina di depan direktur anak perusahaan, saya tetap punya dignity. Dia bekas analyst tapi kok ga tau gimana emiten harus berperilaku terhadap analyst. Emiten ga boleh memengaruhi analyst, apalagi ngehina. Dan kalaupun mau, emiten harus lewat Investment Banker dulu, baru dari IB ke analyst. Pertama kali ngeluarin kartu nama Senior Analyst dengan bangga di depan dia. Dan you know what happened next? Surat berharganya ga laku di pasar. Satu underwriter malah mengundurkan diri. Dihukum sama pasar! Rasain! Cuman, saya jadi ga habis pikir, kalau Dirut yang sekaligus ownernya ini jadi politikus akan jadi gimana ini negeri? Orang terdekatnya begitu apakah emang dididik seperti itu? Dia malah bersandiwara ala sinetron yang ditayangin tipi-tipinya dengan melawan salah satu anak dari penguasa Orde Baru. Eh menang! Terus masuk kemudian keluar dari Partai salah satu media juga. Sinetron kacangan. Totally, say no to him!

Cuman saya bingung aja sama dia, itu yang majang kaligrafi kutipan al-Quran di tempat meeting besarnya siapa ya? Jangan-jangan.. jangan-jangan… Jangan dibilang di sini ah… Ini konspirasi tingkat tinggi yang ga pernah Anda bayangkan. Heuheu… Cuman didapat di meeting tiap hari Selasa bareng big boss saya.

Well, kalau jurnalis di bawah perusahaan media besar itu, ya saya tetep salut. Tapi ga sepenuhnya salut. Secara objektif (penilaian objektif adalah penilaian yang berasal dari orang lain, pengamat, bukan berarti yang paling baik. Penilaian subjektif, yang berasal dari pelaku, malah bisa lebih benar), agak awkward gitu ya kalau misalnya big bossnya itu terlibat issue negatif. Apakah mereka akan memberitakannya juga? Kalau yang satu itu sih ga pernah ngebahas yang mereka sebut lumpur Sidoarjo (padahal lumpur Lapindo). Terus ya bukan orang bego juga kan kalau saya bilang, medianya jadi penyebar agenda politik mereka? Hell, yeah!

Nah kalau jurnalis Kompas sama Tempo, saya salut beneran. Tempo malah yang berani ngungkap kasus-kasus yang ga diungkap jurnalis lain. Pas mahasiswa, BEM ngadain pelatihan jurnalistik berkunjung ke Tempo buat liat kerja mereka gimana. Saya juga pernah di Majalah Kampus selama kuliah dan terakhir jadi Pimpinan Umum (Tapi tidak membanggakan, karena setahun cuman sekali terbit, karena anggotanya dan termasuk saya punya ide yang bersebrangan yang mana saya susah untuk menyatukannya secara ini ga dibayar pula dan jarang yang mau masuk jadi anggotanya, dilema. In short, saya gagal.) Jurnalis macem Tempo gini yang berani ngelawan politikus yang mudah-mudahan ga pandang bulu, yang patut diacungi jempol! Ya tapi sudahlah… saya juga ga bakal baca sih, hanya sekilas-sekilas aja. Banyak yang harus dianalisis tiap hari di mana saya dibayar untuk melakukannya: menganalisis market dan bikin call yang kira-kira bisa ngalahin IHSG dan para pesaing yang didominasi House Asing. Kita lokal tapi tetep PD-nya tinggi banget. Hehe… (meskipun investor lokal demen sama asing-asing gini).

Tulisannya melebar macem tendangan striker kesebelasan Timnas yang sering melebar. Merdeka! Bubulak!