Perjalanan ke Melaka saya mulai dari Hotel di bilangan Ampang Park, sekitar KLCC. Exhausted habis 3-day training bikin kepala cape sehingga di hari itu saya bangun kesiangan dan baru check-out jam 11 pagi. Naik train ke KL Sentral lalu dilanjut menuju stasiun Bandar Tasik Selatan. Di stasiun itu ada 3 lintasan train, yakni LRT, Rapid KL dan KLIA Express. Selain itu, stasiun ini tergabung dengan Terminal Bersepadu Selatan yang baru diresmikan awal tahun ini. Bagus banget terminal bisnya bertaraf airport.

One-day trip atau lebih tepatnya 3-hour trip ke Melaka di weekend adalah bukan pilihan yang bijak. Sejak keluar tol dan masuk ke kota Melaka, kemacetan sudah sedang menantikan korban berikutnya agar terjebak. Tapi untungnya si supir bis ini tau jalan muter. Jadinya bis kami muter-muter sebelum menuju terminal Melaka Sentral. Muter-muter juga tidak berarti cepat. Karena, ternyata Melaka memiliki perempatan yang sangat banyak.

Di Melaka Sentral saya naik Town Bis nomor 17 untuk menuju tempat wisata sejarah Melaka. Bis ini tepat berhenti di Gereja Merah Jambu. Di sanalah objek wisata historis berpusat. Saya hanya foto-foto doang di sana, ga sempat makan. Jam 6 sore, saya kembali ke Melaka Sentral menggunakan bis wisata Panorama. Jam 7 makan di salah satu kedai makanan di Melaka Sentral dan jam 7.30 pulang lagi ke KL menuju hotel yang berlokasi di Bukit Bintang. Mungkin sebaiknya saya nginep di hotel di Melaka tapi saya mengikuti saran teman saya yang pernah trip ke Melaka di weekday untuk nginep di KL karena Melaka sepi.


Ya inilah masalah saya dengan gadget layar sentuh, typo ribuan kali sehari (lebay). Dibandingkan gadget yang memiliki keypad beneran, menggunakan touchscreen gadget jadi lebih menguras fokus. Apalagi di saat jalan kaki, mata harus terbagi fokus antara jalan, orang dan layar karena saya harus memastikan tidak typo. Oleh karena itu saya tetap setia dengan gadget ber-keypad beneran. Jadi jadul! :P

Jadi teringat pas di Beijing, empat orang Inggris dan saya “masih” pake Blackberry. Haha… “Orang lain sudah banyak pake iPhone, kita jadi generasi tua, pake Blakberi sendiri,” mereka ngaku sambil ketawa-ketiwi…

Di subway Beijing, banyak banget orang-orang pake henpon high-end semacem iPhone dan Galaxy, ga beda sama di Singapura. BB jarang banget. Dan, jarang pula orang Beijing pake henpon China hahaha… Padahal saya pikir bakal banyak yang pake henpon China.

Pernah saya liatin layar henpon orang lain yang lagi mainin Angry Birds di subway Beijing, terus si empunya liatin muka saya, mungkin dalam hatinya bilang, “Kasian deh lu ga punya hape touchscreen.” Gebleg!!!!!! Iya sih, jadinya cengo ga bisa mainin gadget. Tapi ontohod da pamarentah China mah, internetna diblokiran. Jadi hese komunikasi. Penting jang aing anu sorangan indit-inditan! :O

OK! Kembali ke lap… top!

Akan tetapi… masalah typo kini sudah dapat ditangani. Continue reading ‘Mengatasi Masalah Typo di Gadget Sentuh, Selamat Tinggal Typo!’


Ceritanya saya mau berhenti langganan IM2 karena akan mengadopsi rejim pengetatan keuangan. Sebagai gantinya saya pilih yang lebih murah yakni smartfren. Tapi sayangnya saya telat buat nutup bulan ini. Yang biasanya tiap tanggal 5 saya dapat jatah IM2 unlimited baru, ngga tau sejak kapan jadi tanggal 1 setiap bulannya. Walhasil nanti akhir bulan ini baru akan saya tutup. Sebagai gantinya saya menyiapkan perangkat yang murah meriah (dan incredibly very worth it) yakni Samsung Galaxy Y yang sudah Android Gingerbread. Jadi malah bulan ini membengkak biaya untuk internet yakni IM2 dan smartfren sendiri.

Setelah dipikir-pikir, daripada beli pulsa smartfren mendingan si SGY ini saya hanya gunakan jika ada WiFi seperti iPod. Nah, pertanyaannya, gimana caranya SGY bisa konek ke komputer yang sudah terhubung internet dan memanfaatkan IM2 itu untuk koneksi data via WiFi. Ternyata saya menemukan solusinya di MacBook saya yakni dengan memilih internet menjadi objek yang di-”sharing”

Kondisi MacBook sekarang sedang terkoneksi dengan internet menggunakan IM2 modem Huawei pinjeman via USB. Lalu ikuti cara-cara di bawah ini: Continue reading ‘Membuat Hotspot dari Komputer’


Mestinya, di akhir Oktober sampai dengan awal November ini, saya pergi ke Turki dalam rangka training tentang Sukuk & Islamic Capital Market. Namun big boss nyuruh cancel. Flight dan training yang sudah dibayar, jadi dibatalkan semua. Diundur ke bulan Desember ini.

Yasudah, saya berangkat untuk trip domestik di tahun ini. Pilihannya adalah Medan. Sebelumnya ga berencana ke Danau Toba, karena jauh. Namun, pas dicari info2 di internet termasuk milist indobacpakcer dan ibackpackerclub, ternyata deket, “hanya” 4 jam dari Medan.

Landing di bandara Polonia Medan pagi jam setengah sembilan. Ini kali pertamax saya menginjakkan kaki di Medan dan ini adalah kali keduax menapak pulau Sumatera. Beruntung banget Medan bisa nampang di “pejwan” :) .

Jalan sebentar ke “jalan raya” untuk nyegat angkot 64 ke arah terminal amplas. Baru tahu, kalo di Medan untuk bilang berhenti, menggunakan istilah “Minggir bang” bukan “kiri” yang lumrah dipakai di Jakarta dan Jawa Barat. Kesan pertama buat kota Medan: rindang juga ya ternyata dan lalu lintasnya juga sama aja dengan Jakarta.

Sampe di terminal amplas, jarang calo yang ngerubutin. Pertanda bagus. Saya naik bis Sejahtera menuju Parapat, namun sayangnya bis AC udah berangkat duluan. Melirik PO Bis lain juga sama aja, adanya ekonomi. Tiada pilihan lain. Di bis, selain penduduk lokal, ada sepasang turis Jepang, sepasang turis dari Minang dan sepasang gay entah dari mana. Dem!!! Ongkosnya Rp22 ribu.

Bis ini melalui Tebing Tinggi dan Pematang Siantar. Pemandangan di sekitar jalannya kurang menarik. Hampir mirip pantura namun dengan tambahan kebun sawit PTPN dan kebun karet Bridgestone. Bis berhenti lebih lama di Pematang Siantar untuk menurunkan dan menaikan penumpang. Ternyata, yang dagang2 asongan di mari, adalah cewek. Ada cowok, pasti anak kecil.

Di perjalanan menuju parapat, ada orang yang nitip satu jerigen tuak khas penduduk lokal. Di pinggir jalan juga di jual di botol-botol bekas air mineral. Air tuak di jerigen itu muncrat-muncrat karena memang tekanan dari dalam jerigen itu dan jalan yang sedikit ajrut-ajrutan. Baunya ga enak. Bikin mual. Untungnya saya di samping jendela jadi ga terlalu terhirup uapnya kecuali pas bis berhenti, baru deh semilir…

Nyampe di dermaga Tiga Raja, saya dan turis lainnya langsung bergegas menuju sirine yang meraung-raung memanggil-manggil calon penumpang. Ternyata ga menunggu lama, kapal yang hanya berisis belasan orang, termasuk orang Amerika dan Belanda, melaju ke pemberhentian pertama: Carolina Cottages. Mungkin sekitar 15 menitan. Bayarnya Rp7 ribu. Saya langsung turun dan check in.

Cottagenya pas di pinggir danau. Bisa berenang di sana. Namun, meski danau, kenapa tanah di cottages ini berpasir ya? Apa sengaja ngambil pasir dari pantai gitu biar suasana pantainya dapet.

Habis mandi, sekitar jam tigaan saya sewa sepeda karena ga punya SIM :P . Suasananya sejuk dan fresh. Senang sekali bisa bersepeda di Pulau Samosir. Saya melewati bukit rumput di mana para kerbau sedang memamahbiak di sana. Bukit rumput ini mirip tempat perang di film Naga Bonar. Mungkin emang shootingnya di mari. Pemandangannya bagus. Setelah 5km bersepeda, sampai juga di Tomok. Di sini ada pelabuhan ferry. Tempat wisatanya adalah kuburan raja apa gitu. Ada rombongan bule di depan saya. Saya ngikut aja :P . Pas si guidenya ngomong, eh ternyata pake bahasa Belanda. Jadi tetep aja ngga ngerti sejarahnya. Sebelum masik makamnya, turis harus mengenakan ulos sebagai penghormatan,

Habis dari situ, saya kembali ke cottage tapi sebelumya, cari makan halal dulu. Ada beberapa warung yang menjual makanan halal di Samosir. Setelah itu pulang ke penginapan menikmati pergantian siang menuju malam.

Jam 8 malam saya sudah tertidur, capek kali ya. Kalau bobo lebih awal biasanya kebangun dan baru tertidur dipaksain menjelang jam 12 malem. Horror bo, hujan, sepi dan sendirian :( . Mungkin kalo ga hujan, masih ada orang2 yang maen gitar dan nyanyi2 di pinggir danau memecah keheningan,

Besok pagi, seperti biasa, malas bangun. Namun mengingat harus bergerak ke Medan pagi-pagi, saya bergegas bangun dan sewa sepeda lagi ke daerah Siallagan. Di sana ada kampung raja Siallagan yang terkenal “kejam”. Lokasinya sekitar 5km dari cottage.

Saya masuk ke rumah orang Batak spesial di Pulau Samosir. Hanya ada satu ruangan untuk 4-5 keluarga. Ga ngerti gimana bisa cukup tuh di dalam rumah itu. Di tengah-tengahnya ada perapian. Di atas perapian disimpan kayu bakar, agar kayunya kering sehingga ketika dibakar ga banyak mengeluarkan asap. Di depan dan belakang atas ada tempat untuk menyimpan peralatan, Kalo di rumah raja, ada dipan sendiri untuk tidur. Di eksteriornya ada dua gambar apa gitu buat menolak guna-guna yang dikirimkan musuh. Ada juga ukiran empat payu dara yang berarti selalu memberi. Warna rumahnya hanya tiga yakni putih yang melambangkan alam atas, merah untuk alam sekarang dan hitam untuk akhirat.

Di depan kompleks rumah tersebut ada kursi pengadilan bagi penduduk yang melanggar aturan. Adapun aturan berat ada tiga yakni mata-mata, berzina dengan istri orang lain dan membunuh. Kalau melakukan pelanggaran ringan, hukumannyua dipasung. Sementara pelanggar aturan berat, bisa dihukum pancung.

Di area itu, ada tempat pemancungan. Untuk menyelenggarakan hari hukuman, dukun harus menentukan hari “baik” hukuman berdasarkan kitab. Di hari itu adalah hari paling lemah dari “ilmu” terdakwa. Sebelum dipasung, terdakwa harus terlepas dari ilmunya. Ada upacara khusus untuk mengeluarkan ilmu tersebut. Terdakwa harus bugil, guna memastikan ga ada jimat yang menempel di badannya. Terus dibalutkan ulos. Lalu dipersilakan melakukan “last supper”. Habis itu upacara melepaskan ilmu terdakwa. Kemudian dites dengan dipukul-pukul tongkat mantra dan ditusuk-tusuj pisau kecil. Kalau darahnya keluar berarti udah ilang ilmunya. Tes belum selesai sampai dikasih asam di atas tubuhnya yg berdarah. Kalau benar-benar udah ilang, dia bakal kesakitan. Jika dipastikan ilmunya sudah hilang, dipenggal lah kepalanya sampai putus. Jika sekali penggalan ngga putus, maka algojonyalah yang dipenggal.

Kepalanya disimpan di atas hidangan last supper tadi. Dadanya dirobek, hati dan jantungnya diambil lalu diiris-iris (tipis, dadu juga boleh). Kemudian sajikan dengan hidangan last supper tadi. Jangan lupa masukkan darah dr mangkuk tempat penampungan darah ketika dipenggal tadi. Hidangan sudah siap, raja memakannya. Kanibal bo’. Memakan organ manusia katanya bisa meningkatkan “ilmu” mereka.

Praktik kejam ini berlangsung hingga 18** sampai datangnya agama. Nonmensen merupakan misionaris yang menyebarkan agama Kristen di Sumatera Utara di abad 19. Sejak saat itu, dihentikanlah aktivitas pemanggalan tadi. Serem!

Setelah berkemas dan check out, saya naik kapal menuju Parapat. Sebelum naik bis di salah satu loket Sempurna, saya makan dulu di rumah makan Islam, nasi padang. Dari parapat kalo weekend tanya aa sembarang supir angkot di sana, lewat loket Sejahtera trayek Medan apa ngga?

Setengah jam sebelum maghrib, saya sampai di hotel Palace Inn di Jl. Mojopahit. Ngga recommended buat yg beli oleh2 malam2 karena ga ada kulkasnya. Tapi bagi yg ga butuh kulkas, recommended karena dekat bgt dg warung2 penjual Bika Ambon.

Malemnya, saya makan di Nelayan di kawasan Merdeka Walk. Di sekitar situ, ternyata ada SID Danareksa Medan :) . Makan kenyang sendirian kepiting, kailan, sup jagung something, dimsum dan yg paling maknyus panekuk durian. Sebelum pulang saya pesan sebungkus buat dimakan di hotel.

Untuk ke hotel saya nyewa helicak dengan trek ke Masjid Raya dan Istana Maimun. Saya berhenti di Cambridge Mall. Gaya banget nama mallnya. Ke sana cuman untuk beli Green Tea Latte buat di hotel. Besok paginya langsung berkemas dan sebelum jam 6 udah jalan sekitar 20m ke toko Bika Ambon Zulaikha. Ga disangka ternyata orang2 udah pada ngantri di situ. Ckckck… Setelah dapet oleh2 sekardus, saya langsung berkemas singkat dan pergi ke bandara Polonia.

Menyenangkan ternyata trip lokal kali ini. Ga disangka aja, ternyata orang Batak dan orang Medan baik-baik juga. Apalagi pas di pesawat ngobrol sama dosen USU dan UNPAR lulusan Teknik Sipil ITB. Do’i ngajar Financial Market. Halah nyambung…

Demikian. Terimakasih udah mau baca :D


Pertama kali liat Turki seperti apa adalah di acara Zona Merah tvOne. Acara TV yang sangat bagus dan berkelas. Diceritakan terjadi demo yang dilakukan oleh etnis Kurdi di tenggara Turki. Lebih tepatnya di kota Dyarbakir. Etnis Kurdi ini di masa Mustafa Kemal Ataturk dibasmi karena tidak sesuai dengan semangat sekuler yang semuanya harus sama. Bahasa dan budaya Kurdi dilarang digunakan. Ratusan rumah di desa-desa yang ditinggali suku Kurdi dibakar. Akhirnya desa-desa tempat tinggal mereka, ditinggalkan dan sekarang menetap di kota. Salah satunya Dyarbakir. Tidak hanya suku Kurdi, jilbab dan adzan pun dilarang dalam bahasa Arab. Keragaman diberangus. Namun di masa Erdogan, Pemerintah Turki sedikit lebih lembut terhadap etnis Kurdi meskipun masih terjadi perang di sana.

Setelah itu, saya beli buku Lonely Planet Turkey dan buku catatan perjalanan Turki yang ditulis oleh Hairun Fahrudin. Saya ingin tahu seperti apakah negara dua benua ini? Ternyata dia adalah negara yang kaya dengan historical sites. Terang saja, karena peradaban Yunani, Parsi, Kristiani, Sekjuk dan Ottoman pernah berkembang di tanah ini. Kini Turki merupakan negara sekuler. Bahkan dijuluki sebagai negara yang paling sekuler di dunia.

Peradaban Yunani berpusat di Barat. Reruntuhan Efesus dan Kuil Artemis (Dewi Kesuburan) terletak di mari. Selain itu, kota kuno Troy yang terkenal dengan kisah kuda troya-nya juga berada di daerah ini. Di tengah Turki terdapat kota “flinstones” di mana penduduknya melubangi batu untuk dijadikan tempat tinggal. Bahkan pelarian orang-orang Kristen yang diburu Romawi membuat kota bawah tanah di Cappadocia. Peradaban Kristen bisa dilihat di pusat bisnis, kota dua benua, Istanbul. Konstantinopel dahulu berlokasi di kota ini. Ottoman yang dipimpun oleh Sultan Mehmet 2 menaklukan konstantinopel karena melihat salah satu faktor meningkatnya ketidakamanan politik bersumber dari sini. Sehingga, Konstantinopel yang telah terkurung daerah kekuasaan Ottoman, harus ditaklukan. Namun bagusnya, bangunan-bangunan Konstantin dilarang untuk diruntuhkan. Ada orang Kristen yang ga sudi Konstantin jatuh ke tangan Ottoman dihukum mati gara-gara dia mencoba menghancurkan salah satu bangunan yang ada kala itu.

Di sekitar Izmir, ada juga gua yang merupakan tempat tertidurnya para ashabul kahfi atau Grotto of the Seven Slepers. Kisah mereka diabadikan di kitab suci al-Quran dan juga katanya ada di Injil. Di paling timur ada Gunung Ararat yang diyakini lebih dari 90% merupakan tempat berlabuhnya kapal Nabi Nuh. Di Konya terdapat rumahnya Jalaludin Rumi, tokoh sufi yang sangat terkenal dan dikagumi oleh banyak orang di dunia. Setiap tanggal 17 Desember di kota itu diadakan festival untuk memeringati kematian (pernikahan) sang Sufi menghadap Ilahi.

Bangunan-bangunannya pun bercampur dari bangunan moderen, tua, kuno, arsitektur Seljuk, Ottoman dan Bizantium masih bisa dinikmati. Keren. Bahkan salah satu kebiasaan orang Yunani di salah satu tempat dekat Izmir masih lestari sampai sekarang yakni membuat wine yang dilakukan oleh orang-orang Muslim.

Yang menarik dari orang-orang Turki ini adalah mereka terkenal ramah. Bahkan khusus untuk orang Asia Tenggara macam kita yang berkulit sawo matang, mereka sangat tertarik ingin tahu, ngajak ngobrol dan ngajak foto bareng. Beruntunglah kita :)

Sangat kagum dan sangat ingin mengunjungi negeri ini. Suatu saat, saya ingin ke mari bareng pasangan tapinya. Namun kasihan, kemarin Turki diguncang gempa besar 7,2 magnitude di bagian Tenggara yang dihuni banyak suku Kurdi. Dulu di tahun 1999 juga gempa. Emang daerah tersebut merupakan sambungan dari patahan bumi seperti di negara kita. Semoga mereka diberikan ketabahan menghadapi cobaan ini. Amiin.

Lets pray for Turkish!


Rumah Cinta

16Oct11

Ketika mahasiswa tingkat akhir, saya ditugaskan praktik lapang di Semarang. Bersama teman-teman yang lain, kami menginap di rumah teman di ibu kota Jawa Tengah itu selama dua bulan. Selama itu pula saya bolak-balik dari rumah itu ke kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah. Saya tidak ingin bercerita tentang tempat praktik lapang itu, karena kalian pasti tahu bagaimana bekerja di tengah-tengah PNS daerah.

Dua bulan bolak-balik kantor, maka selama dua kali dua bulan saya melewati sebuah rumah yang penuh cinta. Rumah tersebut dihuni oleh keluarga China dengan banyak anak. Setiap pagi, saya melihat orang tua mereka membuat gipsum untuk rumah. Warnanya putih. Kemudian digantung di tembok seberang jalan juga di gantung di mana saja di rumahnya. Pintu rumahnya seringkali terbuka. Saya bisa melihat apa yang sedang mereka lakukan di dalam rumah karena pintu rumahnya dekat dengan jalan. Kalau sore hari ketika saya pulang, terlihat seluruh keluarga beraktivitas di ruang keluarga yang tidak besar dan terlihat dari jalan itu. Mereka berseri-seri dan terlihat sangat bahagia. Mereka tidak peduli seperti apa ekonomi keluarganya, namun dapat memaknai hidup dengan penuh cinta.

Malam ini, saya nonton kisah pengedar kokain George Junn di HBO yang sudah difilmkan. Dia sangat mencintai anaknya dan istrinya. Namun karena sering masuk penjara, istrinya meminta cerai. Tapi itu bukan yang menjadi masalah terbesar dia. Tidak menepati janji terhadap putrinya lah yang membuat dia menyesal karena harus mendekam lagi di penjara. Padahal jika dia tidak memedulikan uang, semiskin apapun, dia bisa menepati janji terhadap putrinya dan mencurahkan cintanya padanya.

Saya ingin memiliki istri yang saling mencintai. Dan saya ingin dia tidak meninggalkanku karena saya tidak akan meninggalkannya. Diputusin pacar saja sudah sangat sakit hati dan sangat menyesal tak bisa mempertahankan dia di dalam hidupku, apalagi sudah menikah. Saya juga ingin memiliki anak yang menggembirakan hati. Karena saya yakin pernikahan dan memiliki anak, akan mampu mengubah hidup saya menjadi lebih baik. Karena di sana ada cinta yang meluap-luap. Belajar dari George Junn yang menyesal karena perbuatannya, maka saya memohon pada Allah Penguasa alam semesa untuk menghindarkan saya dari penyesalan. Amin.


Sembilan hari bersama keluarga, ternyata mendapatkan banyak pelajaran. Salah satunya adalah berani karena benar. Ini mirip jargon kampanye salah satu partai politik. Tapi tenang, bagi yang alergi politik, tulisan ini tidak membahas bidang itu. Alih-alih, ini adalah cerita si bapa, rekan smu dan kakak ipar.

Kalau ketemu si bapa, dia selalu bangga menceritakan bagiamana integritasnya membuahkan hasil yang manis. Mungkin ini cara dia mengajarkan anaknya untuk selalu jujur dan bekerja dengan penuh passion. Sering saya ceritakan di blog ini kalau dia sukses mendapatkan dua buah penghargaan sebagai kepala sekolah SD yang membangun bangunan sekolah terbaik se-kabupaten Cianjur. Sebelumnya, nama dia pernah tercoreng gara2 pembangunan sekolah sebelumnya (yang direcokin entah sama siapa lah). Namun kini dia membuktikan kalau namanya tetap baik dengan menjadi nomor 1 yang memanfaatkan dana BOS untuk pembangunan sekolah.

Ternyata, emang di lingkingan PNS sudah sangat parah. Masa ada penilik/pengawas yang kalau berkunjung ke sekolah harus dikasih uang transport sama sekolah tersebut. Sistem yang sangat aneh. Dan kalau saya yang jadi penilik/pengawas pasti akan sangat malu. Masa atasan minta duit ke bawahan? Mestinya si penilik/pengawas tersebut reimburse biaya transportnya ke atasannya bukan ke bawahan. Sistem yang sangat aneh…

Di lingkungan dinas lain juga serupa. Yang kerja rajin sama yang asal-asalan mendapatkan renumerasi yang serupa. Ga ada insentif. Jadinya malah bikin pegawainya demotivated untuk bekerja. Itu diantara staff. Uang proyek yang turun biasanya dipotong atasannya, atasannya, lalu sisanya dibagi rata dengan staff lain meski ga ada hubungannya. Yang memiliki kuasa untuk mengatur keuangan adalah BENDAHARA. Ya dia yang mengetikan angka duit, dia yang berkuasa. Padahal yang kerja orang lain di mana risikonya menempel di orang itu. Kalau ada apa2, ya bendahara mah dadah… Kalau atasan, dia masih megang risiko. Bahkan wartawan dan LSM abal-abal datang menta duit ke atasan itu. Jadi, dengan sistem PNS seperti sekarang, ya paling enak ya jadi bendahara, wartawan dan LSM abal-abal. Ga ada risiko dan kerjanyta cuma ngerecokin. Inilah gambaran negara emerging market yang katanya masuk ke grup 5 negara emerging market paling potensial: BRIIC.

Nah bagian wartawan dan LSM abal-abal yang suka minta duit ini, si bapa tegas banget. Dia ga pernah ngasih duit sepeserpun di saat banyak kepala sekolah melakukannya. Sempat si apa yang sudah berumur 60an tahun ini pake jaket cokelat kulit agak lusuh, celana jeans dan topi. Meski ubannya masih keliatan ga tertutup topi, ternyata dengan gaya “preman” seperti itu sukses bikin wartawan abal-abal balik kanan langsung. Si bapa kalau marah matanya bisa kayak keluar. Saya takut sih tapi ga pernah marah seperti itu ke anak-anaknya. Intinya, kalau dia terintimidasi dan yakin benar, dia akan melawan ketidakadilan. Suka banget dan menginspirasi!

Hal yang sama dilakukan oleh kakak ipar. Dia punya beberapa angkutan umum yang disetirin sama supirnya. Biasanya supir-supirnya tiap hari dipungut seribu sebagai kesepakatan kalau terjadi apa2 seperti kecelakaan atau urusan dengan polisi akan diurusin. Tapi, pas kejadian supirnya celaka, cuma dikasih Rp30 ribu padahal kerugiannya mencapai Rp6 juta. Akhirnya diputuskan untuk ga bayar lagi. Premannya dateng ke rumah, tapi ya dilawan aja… Untung aja kak ipar saya ini badannya gede. Dan bersyukur juga dia jadi suami si teteh :D .

All in all, kalau kita benar, harus berani dan jangan takut.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 90 other followers