I'tikaf Ramadhan

Alhamdulillah. Allah telah memberikan keluasan usia kita sehingga kita bisa menghirup udara di hari ke sebelas akhir Ramadhan (jika Ramadhan berjumlah 30 hari). Dan oleh sebab itu, malam ini adalah awal hari ke sepuluh hari terakhir (hari dalam penanggalan hijriyah dimulai dari maghrib).

Ada apa dengan sepuluh hari akhir Ramadhan?

Pada hari-hari tersebut, ada ibadah sunnah yang spesial hanya ada di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, yaitu I’tikaf Ramadhan. Di mana Rasulullah saw., para sahabat, dan istri-istri beliau mengerjakannya. Hari-hari tersebut menjadi lebih spesial lagi karena biasanya malam kemulian (laylatulqadr) yang lebih baik dari seribu bulan akan turun (Lihat Tafsir Ibn Katsir Q.S. al-Qadr).

Keutamaannya banyak sekali, karenanya Rasulullah saw. selalu mengerjakan ibadah ini, tidak pernah terlewatkan. Salah satunya adalah, mu’takif (orang yang beri’tikaf) untuk sementara memisahkan diri dari kehidupan dunia. Sebagaimana Muhammad berdiam diri di gua Hira mengasingkan diri dari kehidupan jahiliyah yang berlangsung pada masyarakat Arab (Mekah waktu itu). Dengan demikian mu’takif dapat melihat segala persoalan umat dari luar, dan menilainya secara objektif. Analogi dengan, melihat kehidupan masyarakat dari tempat tinggi melihat ke bawah, ke kehidupan masyarakat yang sedang berlangsung. Maka akan menemukan dan lebih memahami permasalahan-permasalahan yang terjadi, daripada kita berada di bawah.

Kaifiat (tata cara), rukun, syarat, pembatalan, waktunya dapat dilihat di sini. Bagi wanita pun disunnahkan, ada yang berpendapat cukup di rumah, ada juga dilakukan di masjid, sebagaimana yang dilakukan istri-istri Rasulullah saw lakukan setelah Rasul wafat.

Sementara bagi kita, karyawan atau mahasiswa yang tidak bisa all out mengerjakan i’tikaf Ramadhan. Tidak masalah bagi kita untuk melaksanakannya walaupun tidak sempurna. Lagi pula sesuatu yang tidak bisa didapatkan secara sempurna bukan berarti ditinggalkan keseluruhannya.

Pengalaman Empiris

Saya baru tahun kemarin melaksanakan i’tikaf. Ada suka-duka nya. Tapi sukanya tentu lebih banyak. Kala itu, saya berazam untuk beri’tikaf full di 10 hari terakhir (tapi ternyata cuma 9 hari) bertempat di Masjid at-Tin. Sukanya, selain beribadah secara mahdlah, saya mempunyai teman baru, orang-orang sholeh (sebagaimana lagu yang sedang ngetren, TOMBO ATI). Mulai dari anak sekolah kelas 3 SMP, pencari kerja, sampai karyawan. Ada yang kerja di Garuda Indonesia, gedungnya bersatu (bersebelahan) dengan Danareksa, ada yang di Asuransi Takaful, ada yang lagi ko’as di Bekasi (Kedokteran Trisakti), ada yang dari Palembang, Bekasi, ustadz. Khusus yang dari Palembang, dia biasanya melakukan i’tikaf di Masjidilharaam. Dari Cianjur pun ada dua orang. Subhanallah. Mereka sengaja tidak mengambil cuti kerjanya kecuali untuk i’tikaf di bulan mulia ini. Amalan-amalan mereka sangat banyak, dan banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari sana. Yang anak SMP aja khatam al-Quran bisa samapi 4 kali. Subhanallah. Dia biasanya i’tikaf di al-Hikmah Mampang. Oh ya, saya ketemu juga anak Trisakti lainnya, jurusan Hukum. He..he… ngajakin debat mengenai RUU Pornografi dan Pornoaksi. Dia salah satu personil Lembaga Bantuan Hukum (Gratis) bagi orang2 yang tidak tahu Sistem Hukum di Indonesia. (Lupa nama lembaganya, iklan dan beritanya suka ada di majalah Tarbawi). Jumlah pesertanya BAANYYYYAAAK banget, apalagi malam-malam ganjil (terutama malam ke 27 Ramadhan), susah nyari kavling buat tidur (loh kok tidur? ya iya, istirahat itu perlu tapi jangan lama-lama).

Dukanya cuma dua, yaitu keterbatasan kamar mandi di masjid at-Tin dan karpet hanya di shaf pertama tidak boleh dipake tidur (jadi kedinginan dan dari sana paru-paru gw kerasa sakit).

Sekarang jadi ketagihan, kemarin aja coba lihat-lihat situasi di Masjid Istiqlal, 3 hari i’tikaf di sana, enak juga, air berlimpah di sana, kamar mandi sangat banyak. Dan ngocor terussss. Karpetnya baru dan tebal, boleh dipake tidur lagi.

Nah, kondisi i’tikaf yang saya rasakan kurang lebih seperti itu, bagi yang tertarik, yu saya mengajak sahabat esteka37 untuk i’tikaf. Insya Allah tidak ada ruginya.

Adapun masjid-masjid yang digunakan untuk i’tikaf biasanya masjid-masjid besar selalu ada. Istiqlal, al-Azhar, Masjid Bank Indonesia (?), Masjid Bank Syariah Mandiri Thamrin (Kamis-Sabtu ini), at-Tin, Masjid Sudirman (TMII), dan masih banyak lagi masjid lain. Yu kita i’tikaf, malam-malam i’tikaf di Masjid, mudah-mudahan mendapatkan laylatulqadr, siangnya kita kerja di kantor.

Akhir Kata

Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah (petunjuk) kepada kita semua, dan memudahkan kita untuk menjalankan kebaikan dan mempersulit kita untuk berbuat dosa dan maksiat. Di mana Rasulullah pernah bersabada mengenai posisi akhir kita di akhirat. Intisarinya bahwa manusia sudah ditetapkan akhirnya apakah dalam keadaan selamat (syurga) atau celaka (neraka). Kemudian sahabat bertanya “lalu buat apa kita beribadah?”. Rasulullah menjawab bahwa orang yang ditakdirkan selamat akan mudah untuk menjalankan kebaikan dan sebaliknya orang yang ditakdirkan celaka akan mudah untuk mengerjakan kemaksiatan dan dosa. Mudah-mudahan kita termasuk golongan pertama. Amin.

Wallahua’lam bishshawaab

13 thoughts on “I'tikaf Ramadhan

  1. Malam pertama, gw i’tikaf di Masjid BaytulIhsan, Masjidnya Bank Indonesia. Ukuran Masjidnya sedang, kalo di Bogor seukuran Masjid Raya. Tinggi, megah, tiga lantai, dan ber-AC. Sanitasinya bersih, sepertinya aman, karena tidak terletak di tempat strategis seperti Istiqlal. Nah, karena malam tadi malam pertama, jadi ga terlalu banyak. Pas di at-Tin juga tahun lalu seperti itu. Makin mendekati lebaran… makin penuh. Masalahnya ga ada tempat mandi. Tadi aja gw mandi di WC. Cuma ada 4 lagi. Rencananya gw i’tikaf di sana untuk 5 hari. Infaknya minimal 5 ribu per hari.
    Acaranya kerjasama dengan Daaruttauhid Jakarta. Dan pembicara yg gw kenal cuman ustadz Ahmad Yasir dari Bogor, kayaknya bakal mengambil tema jihad or sejenisnya.
    Tadi malam diisi sama ustadz Abdul… dari DT JKT, orang Sunda asli, da ngomongnya juga bukan i’tikaf tapi i’tikap katanya.😀
    Seru loh. Rencananya hari ini mau k Bogor, belum ditentukan masjid i’tikafnya di mana. Kandidat terbesar adalah Masjid at-Taufiq Cimanggu.
    O ya, rencananya mendekati Lebaran gw mau pulang ke Cianjur (Waduuhh senengnya….! Coz selama Ramadhan ini belum pernah buka and sahur bersama keluarga euy). Mungkin i’tikafnya di Masjid Agung Cianjur.
    Mudah2an Allah memeberikan usia dan kesehatan untuk beribadah buat kita. Amin.

  2. > 2 thia
    Wah yang masjid Bank Indonesia ngga tau deh. Langsung dateng aja ke sana! Bukanya ada ta’jil dan makan berat (gratis), sahurnya ya bayar, tahun ini mah terkena dampak inflasi, naik jadi Rp 10.000,-

    > 3 yumma
    Ya ga apa-apa ga i’tikaf juga kalo ga memungkinkan mah, da i’tikaf mah sunnat. Jangan sampai mengesampingkan yang wajib tapi memburu yang sunnat, itulah tipuan setan. Masih banyak ibadah lain yang bisa dikerjakan…

  3. klo gw kmaren i’tikaf di masjid al-hikmah bangka. gw malem doang. subhanallah, susananya bedabanget, kerasa banget gw tuh bangga jadi org islam. pas malem 27&29, mesjid penuh, jamaah gak ketampung. ada yang dari cianjur, bengkulu, surabaya, bahkan malaysia & sudan, ngejer pengennya itikap di alhikmah krn kerasa bgt dinaungin malaikat.

  4. Waduh sy blm prnh i’tikaf,blm ngerti lg tntg i’tikaf..ya Allah ampunilah dosaku..berikan kemudahan untukku untuk bs beri’tikaf,

  5. ASSALAMU’ALAIKUM WR WB
    Salam sejahtera dan SuksesMulia untuk kita semua.
    Thanx berratt… atas tulisan Anda yang telah mencerahkan ribuan orang, kerena Anda telah ikhlas berbagi pengetahuan, wawasan, dan pengalaman (knowledge & experience sharing), tentang berbagai hal yang dapat memberikan manfaat untuk banyak orang, serta memberikan saran atau rekomendasi yang bermanfaat bagi siapa saja, utamanya untuk saya pribadi.
    Semoga semua karya tulis Anda selalu menjadi kebaikan dan bermanfaat bagi Anda/penulisnya, pembacanya, dan yang merespon serta menindaklanjutinya (follow up) oleh siapa saja yang berkepentingan.
    Syi’arkanlah terus kebajikan walau cuma satu kata, semata-mata karena mengharap hikmah, ridha, rahmat, dan berkah dari Allah – Tuhan yang maha segalanya.
    Selain itu, dengan membaca kita mengenal dunia, dan dengan menulis kita dikenal dunia, maka membaca dan menulislah secara terus-menerus dan berkelanjutan.
    Amin… Amin… Amin… 33x !
    Lagi-lagi terimakasih banyak…
    Skali lagi..semoga SuksesMulia selalu bersama Anda dan keluarga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s