The Queen's Classroom

Dorama ini bercerita tentang guru perempuan SD kelas 6 yang strict terhadap aturan. Kerjaannya bullying (bukan dengan fisik tapi dengan aturan) muridnya dan kalao ada yg melawan, maka hadiahnya adalah bebersih sekolah setiap abis jam pelajaran. Jadi geregeten aing mah pengen menghentikan bullying itu guru dengan melakukan perlawanan.

Ah saya ternyata terlalu berharap jauh sama anak2 SD kelas 6 di dorama itu. Padahal pernah suatu ketika pas mahasiswa, salah satu dosen perempuan saya berbuat yang serupa dengan guru di dorama ini. Hampir semua membenci dia, walaupun ada yang mengaguminya.

Pernah suatu saat dia bullying kakak kelasku di kelas yang ngambil mata kuliah dia yang semuanya angkatanku. Dipermalukan di depan semua adik kelasnya. Temen2ku udah panas telinga mendengar ocehannya seperti nenek lampir yang jarang tertawa tapi demen ngomel. Semua orang keliatannya pengen menghentikan acara bullying itu, tapi apa daya, TAK ADA SEORANGPUN yang melakukan perlawanan, termasuk diriku. What a phatethic! Padahal setelah bubar kelas, hampir semua orang mencerca dosen itu. Beraninya cuma di belakang, termasuk diriku.

Yang paling ekstreem adalah temen kos sekamarku, kayaknya kalau dikasih range dari 0 sampai 1000, dia bakal milih 1000 untuk mewakili perasaan muaknya sama dosen itu. Bahkan kalau maen game, dia pasti ngasih nama usernya dengan nama dosen itu.

Ternyata sudah dewasa pun masih tidak berani mengungkapkan kebenaran. Di depan dosen, apalagi dosen mata kuliah wajib, semua mahasiswa dibuat tidak berdaya. Kejahatan di depan mata tidak bisa diapa-apakan. Sedih rasanya kalau saya mengingat kejadian itu sekarang. Betapa bodohnya kita waktu itu. (Kita? Lo kalee gw mah engga!)

Sekarang, bagaimana kalau bos kita melakukan kejahatan atau kemaksiatan, seperti mantan big boss saya yang mengizinkan bahkan menganjurkan dan mengajarkan untuk menggunakan wanita demi praktek bisnisnya. Tapi untungnya policy-nya tidak ada seorang pun yang melaksanakannya. Padahal image orang ini di depan karyawan lain dinilai sebagai orang yang penuh integritas tinggi. Termasuk oleh temen2 direksinya ketika memberikan pidato perpisahan. Syukurlah orang kaya gini ga bertahan lama jadi big bossku. Malah memecahkan rekor big boss tersingkat sepanjang sejarah.

Apa yang akan kau lakukan sekarang?

11 thoughts on “The Queen's Classroom

  1. aa’..kirim lewat email aja yah jawabnya(lumbricus_terestris@yahoo.co.id)….soalnya pengen memastikan..apakah IBu dosen yang “Itu”….terima kasih

  2. Wei, sorry ga usah lah… Ga penting nama orang mah. Yg penting itu hikmahnya… Silakan tebak sendiri lah orangnya mah. Sorry jadi bikin penasaran. (Bikin penasaran orang lain emang salah satu hoby gw…😀 )

  3. sampe sekarang juga masih tetep seperti itu…tapi emang….sebagian mengaguminya…sebagian…he he he….(asumsi : orang yang dipikirkan oleh aa’ dan saya sama…)

  4. enak yah stk jaman dahulu kala…ada mata kuliah pilihan…jadi bisa milin2..sekarang semua mata kul stk jadi mata kuliah wajib….hiks..hiks…

  5. #weibullgama
    @7: apakah karena major-minor itu?
    @8: Mmmhhh…. istilah apakah itu? No idea… Di zamanku ga pernah menemukan istilah saham, sekuritas dan finansial. Hebat juga ya dept sekarang udah memperkenalkan dunia pasar modal. Wah entahlah siapa itu ibu yg anda maksud….? (Jadi penasaran balik….)

  6. iya..semua mata kuliah jadi wajib gara2 mayor minor..mata kuliah dipadatkan dan ditambah mata kuliah2 yang sebagian membahas mata kuliah S2..mata kuliah pilihannya mata kuliah minor…dan itupun juga sudah dipadatkan dan ditambah materi S2 juga……..masalah papan itu, kemaren iseng2 buka kamus…ngetik namanya…ternyata ada artinya..klo dalam bahasa indonesia yaah papan dsb itu…coba buka kamusnya….he he he….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s