Lihat, Kita Lebih Baik!

Kebobrokan moral tidak hanya terjadi di Indonesia. Memang, tindak kriminal seperti tak ada habisnya muncul di layar televisi setiap hari. Setiap pagi, siang, sore, malam. Bahkan anak kecil pun menjadi saksi tindak kriminal yang sedikit banyak bisa mempengaruhi perilakunya. Jangan sampai kita seperti tentara US ex-tahanan di Korea Utara. Selama di tahanan, mereka disuguhkan berita negatif: berita sakit atau kematian keluarganya. Surat mengenai kebahagiaan yg dikirimkan keluarganya ga pernah sampai ke tangan tahanan. Selama di tahanan pula, mereka harus berbagi sifat dan tindakan buruk mereka sesama kawannya. Bener2 negatif. Akhirnya, selepas dari tahanan perilaku mereka negatif pula. Nah, sekali-kali bahkan mestinya seringkali kita harus mendapatkan berita positif agar kita mendapatkan energi positif menghadapi permasalahan kehidupan.

Karena itu, coba kita bandingkan, apakah kita lebih baik atau lebih buruk? Jarang sekali kita membandingkan dengan negara emerging market (developing country), kita seringkali membandingkan dengan negara-negara maju. Baiklah, di Eropa, tengoklah ke semenanjung Eropa sana. Kriminalitas mereka memang tidak banyak tapi sangat akut. Rasisme, misalnya. Ya rasisme, menganggap orang lain rendah. Ini kesombongan tingkat tinggi yang seringkali diwanti-wanti sama Tuhan.

Lihat juga ke negara superpower, negaranya Bang Obama, negara yang sistem ekonominya menjadi teladan bagi ekonomi Nasional. Di sana pelaku ekonominya bermoral jauh lebih hancur daripada di negeri ini. Mulai dari kasus Enron. Perdagangan semu yang dilakukan di pasar saham Amerika mengakibatkan harga saham Enron yang menguasai listrik California melejit terus tak pernah turun. Eh ternyata secara fundamental, Enron boroknya minta ampun. Macem rollercoster buntung, harga saham yang ada di puncak harus jatuh bebas sampai bangkrut. Salah satu akibat kasus ini, para calon pemegang Chartered yang kesohor di dunia pasar modal, CFA, harus belajar lebih dalam mengenai ethics.

Baru-baru ini lihat pula kasus Madoff. Dengan Ponzi scheme yang Bernard Madoff (mantan chairman NASDAQ) lakukan, membuat aset investor yang diduga bernilai US$ 65 miliar termasuk aset sebuah universitas ternama di US lenyap seketika. Ponzi scheme itu membayar return investor lama dari dana investor baru. Meledaklah skema seperti itu bagaikan BOM ATOM di Hiroshima. Investornya, Thierry Magon de la Villehuchet yang tertipu US$ 1,4 miliar diduga bunuh diri.

Tengok juga kelakuannya AIG. Setelah disuntik miliaran USD ($180 billion) dari dana pembayar pajak. Eh mereka malah membagi-bagikan bonus bagi karyawannya. Bang Obama berang dong. Tidak ada sense of crisis di hati para pelaku capitalism itu.

Di negeri kita, tidak pernah kejadian kasus Enron dan Madoff, tidak ada juga pembagian bonus saat krisis (contohnya gw), tidak pernah terdengar juga kasus rasisme yang sangat akut. Well, apakah kita lebih baik dari mereka?

Hahaha… (ketawa dulu ah). Metode perbandingan ini mirip seperti infotainment. Dengan menyuguhkan berita negatif para selebritis, membuat para penontonnya merasa lebih baik dan lebih shaleh daripada para selebritis. That’s why, acara infotainment disenangi, karena menghasilkan kesenangan di mata para pemirsanya. Padahal, kesenangan itu hanyalah semu semata. Jadi, apakah Anda senang dengan melihat moral di negeri ini dibandingkan dengan negara maju? Ya moral kita ternyata tidak lebih buruk, at least dalam ekonomi tapi sebaiknya tidak usah senang.

12 thoughts on “Lihat, Kita Lebih Baik!

  1. beberapa orang bilang penduduk jerman sangat rasis, tapi itu tidak benar, selama aku tinggal di sini belum pernah aku mengalami yang namanya diperlakukan sangat rasis oleh masyarakat sini, yg aku tahu mereka menghormati sesama , rasa peduli membantu sesama begitu tinggi di sini, di mana-mana Insya Allah aku merasa aman dan nyaman tinggal di sini karena tidak ada perpedaan kelakuan dari pemerintah pada rakyatnya. Selain itu kalau di jerman orangnya rasis, nggak akan ada ribuan masjid di sini, candi dan tempat ibadah pemeluk agama lainnya, nggak tahu ya kalau di negara-negara eropa lainnya, krn belum pernah tinggal di luar sini.

    mangkum:
    Woah gitu yah…? Duh jadi pengen jalan2 ke sana tuh mba…

    Gw sih dapet baca di buku2 traveling sama berita pemain sepakbola negro di Eropa terutama Inggris dan Italia. Eh ga usah jauh2 deh, di negeri tetangga kita aja, saudara kita kena tindakan rasisme.

  2. btw, biasanya aku nonton moonrise pas purnama tiba, jadwal moonrise bulan depan itu tgl 9 april, blom tahu ya jam berapa muncul di tanah air, yang pasti bisa dilihat di area terbuka seperti di tengah sawah yang bebas dari bangunan

    mangkum:
    ah sayang euy, di sini susah liat tempat datar kecuali ke laut…
    thx infonya mba…

  3. Menurutku, disetiap negara selalu ada plus minus nya.
    Dan harus diingat, berita adalah yang membuat omzet surat kabar meningkat.

    Kalau dikeluargaku (adik-adikku), tak ada berita artinya baik2 saja. Jadi, jika menerima missed calls, pasti udah heboh nelpon balik, dan pertanyaannya… ada apa? menggelikan…lha daripada nelpon tiap hari…

    Kondisi Indonesia di LN juga porak poranda beritanya, tapi kalau mereka mengenal orang Indonesia dengan baik, maka mereka juga tak akan menghakimi.

    mangkum:
    “Kondisi Indonesia di LN juga porak poranda beritanya”
    Wah jadi inget istrinya Mas Pepeng di buku That’s All. Dia anak diplomat harus menunjukkan ke orang lain kalau melihat dirinya berarti melihat Indonesia, tapi saat dia pulang ke Indonesia, dia malah ga mengenali Indonesia…

  4. Jadi bagaimana seharusnya kita ?

    Salam saya …

    mangkum:
    harus ngapain ya? bingung juga sih om… *garuk-garuk*
    tapi sebaiknya berita kriminal di tipi2 itu digeser ke tengah malam (kalau ada aksi/demonstrasi turun ke jalan mengenai ini harus ikutan atau malah bagus kalau jadi penggagas). at least, generasi anak-anak lebih terlindungi dari contoh kriminal ga kayak sekarang.

  5. ttg AIG, di sini ada pacific brands salah satu produser/distributor baju terbesar di aust, sebelum memberhentikan ribuan karyawan, CEO nya naik gaji dulu.

    Tapi Mang, bukannya mau jelek2in Indonesia, di Indonesia hal sperti memang tidak ada (atau at least probability nya kecil) atau sulit dideteksi oleh publik karena transparansi yg kurang ya?

    Tp bagaimana pun juga, I still call Indonesia ‘home’ dan insya Allah akan ada perubahan baik di masa mendatang.

    Oh kalau saya yg “feeling glad of being an Indonesian” yaitu interaksi sosial kita yg masih kuat. Di sini dg tetangga hanya ‘say hi’ doang, akibatnya banyak kasus kejahatan terjadi simply karena tidak pernah ada yang tahu. Bayangin ada anak 10thn kena infeksi telinga berat sampai meninggal dunia krn pas dilihat rumahnya sama kandang binatang aja bersihan kandang binatang — Ibunya pemalas. Coba kalau di indonesia, pasti tetangga sudah ‘curiga’.

    mangkum:
    iya bisa jadi sih karena kita kurang transparan….
    weh itu ternyata di Oz ada juga yg jorok sangat kek gitu extreemnya
    teuteup ya Ti, merah putih ada di hati…
    semoga lekas selesai disertasinya ya Bu… (gw suka berkunjung ke blogmu, tapi jarang komen, mengamati aja…😀 )

  6. Pembagian bonus di saat krisis? Ada tuh bonus jalan2 ke Singapura untuk beberapa kalangan tertentu di perusahaan gw :p
    Perbandingannya ga mirip infotainment kok mang, soalnya gw ga merasa moral kita lebih baik. Bicara rasis, ya ada bangetlah terjadi di negara ini juga. Tapi kalau bicara soal cinta, ya iyalah tetap juga cinta sama negeri yang (masih) bobrok ini.

    mangkum:
    weh gapapalah mungkin company mu ga terpengaruh banyak kek company gw yang emang industrinya lagi krisis.

    wah masa sih kita rasis banget. engga ah. sedikit rasis aja kali ya… (nawar dot or dot id).

    hahaha… ga di mana2 pasti cinta sama Indonesia lah bagaimanapun babak belurnya. malah, (eh gw udah pernah cerita belum ya) kata bapaknya temen gw, ada orang yg sekarang tinggal di jerman, bapaknya Jepang, Ibunya Perancis (kalu ga salah), pernah jalan ke Indonesia, eh malah minta kewarganegaraan Indonesia ke ortunya (ditolak lah..)

  7. Ya begitulah hidup didunia, dari sejak jaman Firaun sampai sekarang tidak akan berubah, hanya istilah saja yang membedakannya.

    mangkum:
    benul kang. makanya ya… di al-Quran diceritain kisah2 zaman dulu

  8. Barangkali karena itu ada pepatah ini
    “Semut di seberang lautan tampak tapi Gajah di pelupuk mata tak kelihatan”

    eh..nyambung gak, ya..?
    he..he..

    mangkum:
    keknya ga nyambung deh put… ahhaha….8x

  9. setidaknnya walaupun amerika banyak kasus tapi taraf kehidupan soasialnya gak terlalu timpang…coba indonesia…wedewwwwww….bayangin nih yg rumah gedongan sama yg di pinggir rel kereta apinya…ampun deh😦

    mangkum:
    bener juga ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s