Golput di Mata Saya

Kurang dari seminggu lagi, Indonesia akan memilih. Tidak seperti “Indonesia Memilih” dalam Indonesian Idol yang menggunakan SMS premium, Pemilihan Umum 2009 untuk memilih PEMIMPIN INDONESIA lima tahun ke depan kali ini menggunakan alat tulis dengan cara mencontreng. Saya gatau pasti berapa triliun Rupiah uang APBN 2008-2009 masuk ke pos PEMILU ini. Intinya, kalau uang itu dikasih ke saya, pasti saya akan gunakan untuk jalan-jalan keliling dunia sambil menyedekahkan sama orang-orang yang membutuhkan (Ah kalau duitnya habis, ngelamun lagi aja…😛 )

Dari sekian triliun Rupiah itu, berapa banyak pohon yang ditebang untuk poster, sticker dan kertas suara yang segede gambreng? Seberapa besar lubang bumi dari penambangan logam yang ditambang untuk membuat “bilik” suara? Berapa batang bambu yang ditebang untuk tiang bendera or banner? Hm… entahlah. Duh, sayang sekali ya padahal. Harapannya di PEMILU ke depan, kita sudah menggunakan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Memilih online via internet atau apalah coba rekrut tim untuk memikirkan hal ini dan bayar pake duit kita (APBN).

Sayang sekali juga, apabila energi (perut bumi, pohon, waktu, manusia) yang terlanjur disiapkan untuk hajatan MEMILIH PEMIMPIN ini saya sia-siakan dengan golput. Pengorbanan pohon yang kadung ditebang, perut bumi yang kadung dilubangi, waktu yang terlanjur terbuang, keringat yang habis diperas dan lain-lain, semestinya saya hargai dengan MEMILIH PEMIMPIN yang kata orang-orang seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Tetapi, kalau saya emang berniat mau mencari jarum itu, PASTI ketemu, bagaimanapun caranya. Pake magnet misalnya kan? whatever lah.

Sekarang ke fatwa MUI yang kata media mengharamkan GOLPUT. Saya baru tahu lengkap fatwa MUI ini ternyata seperti ini bunyinya:

1. Pemilihan Umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.

2. Memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan immamah (kepemimpinan) dan imarah (pengaturan) dalam kehidupan bersama.

3. Imamah dan imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agama agar terwujudnya kemaslahatan dalam masyarakat.

4. Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam “hukumnya adalah wajib”.

5. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 4 atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Weh, make sense banget fatwa MUI ini di mata saya. Apanya yang kontroversi? Tinggal mencari PEMIMPIN yang sesuai dengan poin 4 kemudian memilihnya atau kalau emang sudah ga ada sama sekali orang seperti di poin 4, ya silakan golput. Namun kalau masih ada pemimpin yang masuk poin 4, tapi misalnya saya ga sungguh-sungguh mencarinya, kemudian saya memilih yang ngaco atau bahkan ga memilih sama sekali, hm… itu baru jatuh ke hukum haram.

Terus saya sempet terpikir mungkin memang pantes banget sih haramnya golput seperti yang difatwakan MUI ini. Karena orang ini seperti orang yang ga ikut berjuang menegakan kebenaran dan keadilan. Macam zaman penjajah aja, ada Belanda atau Jepang yang merampok hak-hak kita (ini analogi politikus busuk bin edan), eh saya malah diam saja (ini analogi golput) ga membantu para Pejuang yang mendambakan kemerdekaan (ini analogi politikus bersih). Tapi emang ternyata untuk membasmi politikus busuk itu MEMILIH bukan satu-satunya solusi, toh ada KPK, Polisi, Kejaksaan (duh ga percaya gw sama kejaksaan) dan lembaga lainnya yang bisa meringkus mereka. Akan tetapi, saya fikir dengan mengombinasikan perbaikan di semua pilar (termasuk MEMILIH POLITIKUS BERSIH) jauh akan lebih baik dibandingkan mengandalkan satu pilar saja.

[Tulisan Bonus hehehe…x]

Sejak heboh fatwa MUI ini yang kata media-media dibilang kontroversi. Saya ga ngerti siapa sesungguhnya yang kontroversi, fatwa MUI kah atau pendapat medianya sendiri yang kontroversi. Tetapi, sebelum saya terjebak menebak siapa yang melakukan kontroversi, saya teringat sebuah acara di MetroTV File saat Ramadhan lalu. Di acara itu diceritakan dengan tuntas mengenai Buya Hamka dan MUI yang dia perjuangkan keberadaannya. Saya jadi mengerti kenapa harus dibikin MUI? Di mana posisi MUI dalam kehidupan beragama kita? Apakah di negara lain ada MUI juga? Hm… kalau buat saya sih, fatwa MUI, selama itu didasarkan sama al-Quran dan as-Sunnah (dan emang pastinya seperti itu), kenapa harus dipertentangkan? Toh saya ga hafal juga al-Quran apalagi Hadith sedangkan  MUI berisi ratusan ulama (di negara lain hanya satu orang ulama, Mufti) yang mumpuni di bidangnya , sebagaimana saya mumpuni di bidang saya sendiri.

23 thoughts on “Golput di Mata Saya

  1. Menarik banget Mang, tu ide soal memilih online via internet.
    Tapi masalahnya kita sama2 tau, butuh investasi berapa banyak n berapa lama buat bikin rakyat Indonesia semuanya melek teknologi🙂

    mangkum:
    nah ga tau juga, ya mesti difikirkan lah.
    beruntung kita dikaruniai fikiran, segala hal harus difikirkan.
    tapi yang paling penting adalah DATA KEPENDUDUKAN dulu harus rapi setiap saat, bukan cuma buat Politik aja, tapi buat kepentingan lainnya. (asal datanya jangan bocor ke marketing kartu kredit, asuransi atau sejenisnya…. *peace ah, marketing*)
    menurutku yang paling feasible, penerapan Single ID dulu deh.

  2. memilih pemimpin yang memenuhi kriteria pada poin 4 emang susah, tapi saya yakin di negeri ini pasti ada orang yang masuk kriteria tersebut..
    siapa orangnya.. tentu orang ini akan membuat Para Koruptor Sebel. juga orang ini merupakan Pencinta Keadilan Sejati..

    mangkum:
    wehehehe….8x

  3. tambahan..
    Pemimpin bertaKwa dan Siddiq
    terPercaya, aKtif dan aSpiratif

    mangkum:
    makasih atas tambahannya Ko. harus diusulin ke MUI ga nih?😛

  4. Kalau vote lewat internet, Indonesia masih terlalu riskan. Apalagi di bidang keamaan dan autentikasi suara. Tahu sendirilah, orang iseng yang jahat kan bisa sangat berbahaya “-_-

    Duh, kalau milih harus bener-bener liat sampai ke dalem-dalemnya… Pada sesumbar kebaikan sih. Seandainya ada partai yang ndak menjelek-jelekkan parpol lain dalam kampanyenya…..

    mangkum:
    Keknya bukan Indonesia aja deh yg riskan pake internet… Ya mesti dipikirin lah sama yg ahlinya…

  5. setuju buat gak nyia-nyiain dana besar buat pemilu dengan milih yg terbaik…
    walopun, sampe detik ini, saya sendiri belum tahu siapa yg harus dipilih…

    mangkum:
    ah masa sih belum tau…
    kamu mahasiswa loh, din, mestinya merhatiin politik juga.
    gimana bisa anak muda ga peduli sama politik? (ini pertanyaan wartawan senior Belanda ketika dia ngobrol santai sama temen kantor gw yang masih mahasiswa waktu itu di rumah temen gw)

  6. memilih online? bisa banget, lewat email juga cukup. tentu saja ga perlu semua pemilih harus lewat online, tapi dijadikan sebagai salah satu alternatif saja. ini baik banget untuk meningkatkan partisipasi masyarakat yang sekarang masih enggan nyoblos (eh, nyontreng) baik karena alasan sibuk dengan pekerjaan yang padat atau malas ngantre di TPS atau memilih memanfaatkan “mumpung libur” untuk pergi ke luar kota.

    mangkum:
    setuju!
    kalau ga salah di US kan metode pemilihannya diserahkan ke statesnya masing2.
    ada state yang mengguakan touch screen, ada juga state yang pake pensil 2B ngebuletin pilihan kek ujian gitu.
    mungkin bisa dicontek di kita, entah gimana caranya.

  7. Mang.. “Golput dimata saya” kok di tulis ??? klo ngak salah fungsi mata itu tuk melihat…
    makanya kalo aku maksud “golput di mata saya” adalah Lihatlah siapa saja yang akan golput ntar tgl 9 april…

    mangkum:
    weheheh kritis sekali kau…
    tapi ya… fungsi mata gw itu ternyata banyak, bukan hanya melihat saja… (ngeles.com)😛
    ya ga bakalan keliatan atuh siapa yang golput mah. yang nyontreng juga ga keliatan.

  8. wah.. kalo milih lewat inet.. ntar banyak penipuan donk.. bisa banyak orang yg pake dobel2 suara.. tinggal bikin ID yg banyak..

    mangkum:
    penipuan mah ga usah di internet, chie…
    bikin ID yang banyak, maksudnya, bikin klonengan gitu yah…. hahaha…8x cooee banget sih, ntar dimarahin si warner loh!!!

  9. aduh serem ah makin banyak yang haram haha

    mangkum:
    dari dulu juga udah banyak yang haram mah, sas.

  10. Mangkum…tulisan lu kali ini menggelitik
    pasalnya diriku sama sakeli belum secara keseluruhan membaca fatwa MUI, tetapi setelah membaca kok rasanya Wajar banget deh…maksudnya dari gw yang tadinya kok memandang aneh berangsur2 untuk setuju…hehehehe,….

    ohya mau jadi apa indonesia kalau rakyatnya gak mau memilih pemimpin yg sudah memenuhi poin no.4 diatas?😀
    ehhh malah yang di pilih yg ngasih duit dan sumbangan yang besar….😛

    mangkum:
    Iya gw juga baru baca fatwa lengkapnya ternyata kek gitu…

  11. Milih via internet..rasanya sudah ada negara yang pake bukan ? Sepertinya negara maju…
    Rasanya untuk mewujudkan hal spt itu perlu berangsur2, step by step…
    ATo kita pake metode “Biometrik” aja…’Sistem cap jari elektronik’

    Tapi..memang sih, mang..kita perlu investasi dan sarana yang memmadi untuk mewujudkan itu semua..

    Yang jelas untuk pemilu ini..kita gak boleh GolPut..insyaallah masih ada caleg2 yang amanah..insyaallah..

    mangkum:
    Teknologi canggih sekali ya Put…

  12. waktu dpt kertas suara yg segede bagong itu , rasanya kok nggak fair ya kalo aku nggak milih , mikir biayanya itu lho, walau sadar tiap org punya hak 100 % dgn suaranya, mau dikasihkan atau golput

    mangkum:
    memang mba, apalagi ada 4 bagong… eh empat kertas suara…😀

  13. yang pasti saya tidak akan golput mas, insyaallah😀
    cuma utk kali ini akan sedikit kerepotan pasalnya kertas yg segede bagong itu bukan cuma selembar melainkan ada 3 lmbr kalo gak salah.. yea liat nanti aja bingung pa gak milih dan lipatnya hehe😀

    mangkum:
    saya percaya deh kalau ibu mah pasti milih…. hehehehe….
    tapi bu, mau nambahin bagongnya satu lembar lagi: DPR, DPRD I, DPRD II, DPD.
    jangan lupa tu Bun!

  14. fufufu…

    jadi kalo golput, sayang banget ya…
    berasa nggak ngehargain pengorbanan pu’un2…

    *yah… kalo dapet kartu pemilih mah, kagak golput deh kayaknya…*

    mangkum:
    sip lah, yoan… contreng nama saya ya…! hihihi…
    btw “fufufu” itu expresi apa?

  15. HHmmmm …
    Haram atau tidak haram …
    Saya tetep mau nyontreng …
    Just for the sake of ritual dan pengalaman bathin saja …
    (hahahah)

    Nggak deng … boong …

    Yang jelas saya akan mencontreng …

    mangkum:
    wah… jarang2 ya Om, 4 taun sekali…😀

  16. di sini sih aku dapat cuma satu “bagong” Mang😀

    mangkum:
    oya?
    bagong yang mana tuh mba? (duh jadi ngomongin bagong… hahaha…)
    DPR aja keknya ya?

  17. mungkin gw termasuk gol yg blum tau mo milih siapa (kasian deh gw..haha)…
    mungkin gw termasuk orang yg autis sm politik (kayanya..haha)…
    tapi gw (tetep) berharap yang terbaik bwt Indonesia😀

    *hayuuuk qt nyontreng….*

    mangkum:
    iya contreng nama saya aja Nggi…😛
    eh pasti ngga ada deng, contreng bapaknya marcell aja… hehehe…
    eh btw, temen sekelas kita ada yg jadi caleg loh tapi di Jambi.

  18. Contreng yg mana yaaa??????
    Satu suara bisa menentukan perubahan masa depan bangsa….. kalimat yang sudah usang terdengar!!!!
    So, kalo golput sekarang diharamin ya sama MUI? Trs gimana dong??

    mangkum:
    yang sesuai dengan butir 4 dong…
    kata siapa MUI mengharamkan golput?
    eh kata gw ya… hahaha.. itu kan conditional… kayak makan daging babi aja, bisa halal bisa haram.

  19. Interpretasi saya pribadi esesinya menurut MUI adalah “Haram menjadi orang ‘Pemalas/Cuex’ jika tindakan yg seharusnya bisa dilakukan itu akan menentukan nasib bangsa”

    Dalam konteks Pemilu, Malas/Cuex = Golput.

    Bener gak sih..? Akh.. dari tadinya males karena sampai sekarang juga belum dapat Kartu Pemilih.. sepertinya jadi mesti milih nih..😉

    Pokoknya hidup itu kan juga pilihan. Jadi pilih aja 9yg menurut masing2 kita) terbaik dari pilihan yang ada. Gitu kan..?🙂

  20. sya mah justru agak curiga knp MUI ngurusin GOLPUT2 sgala, bukan suUdzon lho, seperti permasalahan yg lebih berkaitan dgn kemashlahatan ummat lainnya tidak ada yg mendesak tuk dibicarakan. dan menurut sya, Halal&Haram itu bukan urusan dosa ato tidak dosa, Islam-i atau tidak Islam-i. karna tidak ada yg bisa menjamin apa penilaian Tuhan pada kita kan?? ato mungkin karna itu ada plesetan klo MUI bukan Majelis Ulama Indonesia, tapi Majelis Ulama Iseng ;p

    Kang term kadung sya rasa kurang tepat!! klo kita permisif dgn term kadung, kapan kita mau berkembang pola&sistim pemilihan negera kita?? mungkin karna term kadung itu PEMILU kita jadi carutmarut, rekapitulasi hasilnya LEMOT banget dan Hutan kita makin ciut??

    seperti Akang bilang, “mencerdasi hidup!! biar ga dibodohi..” maka cerdaslah, bahkan dlm melihat yg baik!!

    mangkum:
    Wahaha Jiyi serius amat sih kau…

    MUI kan banyak bagiannya Ji. Di bidang ekonomi, mereka bekerja keras. Gw jadi saksi mereka, cuz gw dapet training dari mereka… hihihi… salut deh sama MUI.

    Kadung da emang udah terjadi, PEMILU berikutnya mestinya udah pake touchscreen. Nah kalau udah touchscreen gini, alesan kenapa ga golputnya nanti dipikirin lagi.. ahaha teuteup!😛

    Anyway, thx Jiyi udah mampir di blog gw…!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s