Asal-Usul Mang

Pas SMU, saya ga pulang ke rumah selepas Sekolah. Tapi, saya pulangnya ke Pesantren. Di kota Cianjur, banyak pesantren di pusat kotanya. Jadi, no wonder kalau disebut kota santri. Nah, pesantren yang saya masukin ini, aktivitasnya dimulai dari pulang sekolah, sore sampai Shubuh. Jadi, kita di sana bisa sekolah di sekolah umum, bukan sekolah Islam. Sehingga, saya dapet ilmu umum dan ilmu Islam nya full.

Nah di pesantren yang bernama al-Barkah (pendukung tim el-Barca :P) ini pertama kali saya dipanggil dengan panggilan “Mang”. Jadi nama saya di sana adalah “Mang ….”. Setelah diselidiki, ternyata hampir di semua pesantren di Cianjur manggil rekan-rekannya itu dengan sebutan Mang. Terbukti kalau lagi tanding bola antar pesentren. Hm… awalnya berasa “direndahkan” dengan panggilan Mang ini. Kan disamain dengan Mang Bakso, Mang Bajigur, Mang Sampah (tukang sampah maksudnya) dan Mang tukang dagang lainnya. Padahal kan sebenernya panggilan Mang juga untuk adiknya ibu atau bapak dalam bahasa Sunda. Tapi kini, sudah jarang yang make. Kebanyakan pengen dipanggil pake bahasa Belanda: “Om”, Om Kumlod misalnya. Kan jadi lebih keren.

Karena minder dipanggil Mang, ada salah satu temen santri yang satu SMU dengan saya berusaha mengisolasi panggilan Mang hanya di teritori Pesantren aja. Pernah suatu ketika, temennya manggil Mang di sekolah.

“Jangan panggil Mang kalau di sekolah atuh.” dia protes. “Awas siah!” ancamnya.

Dari kejadian ini saya jadi merenung. Iya emang saya minder deh dipanggil Mang di sekolah. Tapi logika saya protes, kenapa harus minder? Apa karena saya ga mau dipanggil dengan panggilan yang sema dengan tukang bakso, tukang sampah, tukang bajigur? Kalau emang iya, wah ga bener nih, merendahkan profesi orang lain padahal kan semua profesi itu sama. Tidak ada yang lebih tinggi. Mau satpam, mau direktur kek, tetep sama. Kalau mau merendahkan orang lain, rendahkanlah orang yang korupsi dan bekerja dengan cara yang haram. Rendahkan pula pemimpin yang ga adil dan ga amaanah (rendahkan dalam arti diturunkan menjadi rendah… :P). Nah itu baru boleh.

Setelah merenung begitu, tetep sih saya masih minder kalau dipanggil Mang *gubrag*. Tapi kalaupun ada yang manggil Mang selain di Pesantren, ya saya berusaha untuk biasa aja. Ga protes tapi nerimo…

Berlanjut ke kuliah. Saya dan temen-temen lainnya sering main bahkan nginep di salah satu rumah temen di Buitenzorg. Di sana, dia dipanggil Mang oleh keponakannya. Dan sejak itu, kalau main ke rumahnya, kita kadang-kadang manggil dia Mang sebelum namanya.

Lulus kuliah, saat ini, saya sudah dewasa, sama sekali tidak minder dipanggil Mang. Dan sejak itu, saya malah pengen dipanggil Mang daripada Om sama keponakan saya. Tapi udah terlanjur euy, ponakan manggil saya Om, jadi agak susah dirubah. Dipanggil Mang, saya jadi bangga sebagai orang Sunda…😎

Sejak ngeblog sekitar setahun yang lalu. Saya menggunakan nickname mangkum. Selain sebagai identitas bahwa saya orang Sunda dan bangga menggunakan bahasa Sunda, juga nostalgia pas zaman Pesantren itu loh.

Jadi, ke temen2 kuliah dan SMU, kadangkala, saya panggil dengan mereka dengan panggilan Mang meskipun bukan orang Sunda. Hahaha… Dan sekarang di kalangan mentemen SMU, malah suka nambahin Mang sebelum nama. Dan malah menjadi tren atau bahkan budaya (atau peradaban kali ya… hahaha yg kek gini kok dibilang peradaban?) pada manggil pake Mang, di fesbuk misalnya. Padahal ga pernah tuh dulu pas SMU pake Mang-Mang-an…😛 Wah al-Hamdulillaah deh mereka semakin bangga dengan bahasa daerahnya.

Hidup Mang!

17 thoughts on “Asal-Usul Mang

    1. Busyet masih diedit udah komen kau Fi…
      Ya terserah lah mau manggil gw apaan, asalkan jangan panggil gw mba, tante, ibu atau nenek.

      Tidur duong!

  1. Menurut aku, panggilan apapun, klo orang yang dipanggil juga asik2 aja, bakal kedengeran lebih ‘cool’. Halah :p

    Klo aku tadinya ga suka dipanggil nduk (panggilan orang jawa buat anak perempuan), hehe.. tapi begitu ada ‘seseorang’ yang ujug2 manggil nduk (bukan bokap/nyokap lho ya..), rasanya panggilan itu jadi terasa indah, huehue.. *lebay deh*

  2. Di tahun 80-an teman saya dengan sesama teman terutama yg dari jawa tengah saling memanggil dengan sebutan “Pak” meski masih sama-sama mahasiswa. Sekarang sesama teman saya sering manggil/dipanggil “Oom” … just for fun saja …

  3. Hahaha..penghuni el barca jadi barcelonista semua dong..
    Panjang juga ya lika-liku asal nama “mang”..
    Kalo jatim banyak panggilan, ada pak lik, cak, kang mas, sam, gus, wakde, dan masih banyak lg kayaknya tiap kabupaten udah beda..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s