Insya Allah

Suwer
Suwer

Seorang dosen pas kuliah pernah cerita ketika dia bimbingan Tesis atau Disertasi di salah satu Universitas di Kanada. Dia sama satu orang Arab dibimbing oleh dosen yang sama. Setelah pertemuan pertama, mereka merencanakan pertemuan berikutnya. Setelah waktu yang dijanjikan OK, kemudian si orang Arab bilang, “…insya Allah” sama si dosen sebelum dia bergegas meninggalkan mereka berdua. Si dosen nanya apa arti insya Allah. Kemudian dia jawab,”If God permits our plan”. Wow si dosen terkesima dengan ucapan itu. Bagus sekali. Kata guru Matematika SMA gw, kalau ga ada izin dari Allah, maka kita ga bisa menekukan telunjuk kita.

Di hari yang dijanjikan dosen pembimbing dan dia sudah kumpul duluan. Ternyata si Arab ditunggu ga dateng-dateng. Bete. Malah ga jadi dateng. Pertemuan berikutnya ketemu lagi sama si Arab dan janjian lagi. Si Arab bilang insya Allah lagi, namun si dosen bilang, “No insya Allah anymore!” Lu mesti dateng! gitu kira-kira…

Ternyata ga orang Indonesia doang yang janjian pake insya Allah artinya probability of default menepati janji lebih besar.

Namun, saya kok agak berbeda yah. Kalau janji pake insya Allah, itu probability of default menepati janjinya diusahakan paling kecil. Bukannya apa-apa, karena janji yang saya bikin dihubungkan dengan Allah Sang Pencipta. Tanggung jawabnya berat kalau janjinya ga terpenuhi. Tapi saya juga ga mau bilang PASTI pas janjian, karena secara statistik, hal yang PASTI itu memiliki probability 1, dan hal yang memiliki probability 1 adalah sesuatu yang telah terjadi a.k.a past tense bukan future tense kalau kaidah bahasa Inggris mah. Kalau pake PASTI takutnya ada sesuatu yang terjadi diluar kehendak kita terjadi, kan repot, meskipun orang yang dengannya kita bikin janji bakal memakluminya.

Seorang temen pernah bilang, “Wah saya ga bisa mempercayai dia bakal datang, soalnya dia ga bilang insya Allah pas janjian.”

13 thoughts on “Insya Allah

  1. well, itu memang bagaimana tiap individu mengartikannya. Dan saya lebih senang pada pengertian Mangkum bahwa itu seakan perjanjian dihubungkan dengan Allah. Meskipun saya tidak pernah memakainya.

    Berlainan dengan orang barat yang lebih memakai kata “I will” atau kata pasti, maka saya akan lebih senang memakai, “Saya usahakan” yang mungkin terjemahan saya pribadi atas kata “gambarimasu”.

    Orang Jepang dalam mengadakan perjanjian, kadang kala disertai, “Manggaichi nanika attara…. Seandainya ada sesuatu hal….” Sambil memikirkan kemungkin “ada sesuatu hal yang menghalang”, maka dipikirkan penyelesaiannya. Maklum Jepang negara gempa, jadi kami juga memikirkan kemungkina ada satu kejadian diantara sepuluh ribu kemungkinan ( Mang = 10.000 ichi = 1, perbandingan 1:10.000)

    BTW mungkin saya belum pernah memuji Mangkum, tapi Mangkum sudah japanis sekali loh dalam membuat janji. Keep it …Kalau tidak bisa juga langsung memberitahukan secepatnya. Tidak diundur-undur, sampai ditanya dan berkata, “aduuuh maaf sebetulnya saya tidak bisa….”
    gubraakkk.

    So, next spring kopdar di Tokyo? hihihi
    saya tunggu loh

    EM

  2. di Perancis karena banyak muslim-nya maka kata insya Allah sudah cukup dikenal, bahkan pernah ada ramalan cuaca di tv penyiar yg non-muslim menyebutkan bahwa di daerah sekitar Maroko & Aljazair akan hujan lalu ditambah kata insya Allah ..

  3. Yup. Setuju banget. Even klo janjian ama temen yang bilang Insya Allah, ampe nanya lagi. Insya Allah nya berat ke iya or engga niih. hahaha…

    Memang istilah Insya Allah mengalami degradasi arti. Seolah bermakna penolakan secara halus. Harusnya sih Insyal Allah itu seperti yang Mangkum tulis. Jadi bener2 HANYA berhalangan klo ada halangan yang TIDAK diperkirakan sebelumnya (klo sekarang untuk yang udah diperkirakan pun tetep Insya Allah😛 )

  4. Pey …
    ini bener banget …
    terus terang saja … jika saya mendengar ada rekan / kawan yang diundang lalu dia bilang seperti itu …
    maka saya siap-siap mental bahwa ybs besar kemungkinannya akan TIDAK datang …

    Dan oleh sebab itu …
    jika berjanji saya tak berani bilang Insya ALLAH …
    saya biasanya bilang …
    1. Mudah-mudahan saya bisa datang … tapi saya ndak janji yaaaa … (ini artinya kemungkinan besar tidak datang )
    2. Saya usahakan datang ya … (ini artinya saya memang berniat untuk datang … )

    Karena datang atau tidak ke suatu pertemuan … sebetulnya hanya tergantung niat saja …
    niat membatalkan yang satu dan menghadiri yang lain … atau niat mendatangi yang satu dan mengabaikan yang lain …

    Kok jadi panjang begeneeeehhh ..

    Salam saya

  5. emang banyak yg sudah salah kaprah mang, kebanyakan orang bilang InsyaAlloh tuh 75 % gak dateng, padahal essensi InsyaAlloh ini harusnya 99% kita mengusahakan untuk menepati janji. (mereun :p)

  6. Orang sering menyalahgunakan dan membawa-bawa Allah untuk mencari excuse atas ketidakmampuan menepati janji. Sesuatu yang amat disayangkan dan maaf, menurut saya, menunjukkan tingkat penghormatannya pada Sang Pencipta. Kalau emang mau ingkar janji jangan bawa2 nama Tuhan deh.. Itulah sebabnya saya agak alergi liat politisi yang berbasis agama dan membawa-bawa agama dalam berkampanye. Kasian agamanya yang malah direndahkan kalau politiknya menggunakan cara2 yang tidak benar.. Udahan akh.. makin ngaco..🙂

    Met Idul Fitri, mohon maaf mahir batin atas segala kesalahan yaa..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s