Bencana: Ujian, Peringatan atau Azab?

Kalau ga salah ingat, Pak Zainudin MZ pernah berceramah di saat Ramadhan di TV1. Beliau menyampaikan sebuah rumusan bencana yang paling make sense menurut saya. Sebenernya sih ga penting mencari rumus-rumus apalagi yang make sense. Tapi ga apa-apalah demi memuaskan otak saya aja.

Sebuah bencana datang ga melihat apakah itu orang baik, sedeng atau orang yang ancur. Datang aja. Namun kandungan bencana itu yang berbeda bagi setiap individu.

Kalau kita merasa orang yang baik, sholeh, menjauhi maksiat, maka bencana itu disebut UJIAN. Tujuannya adalah untuk mengupgrade keimanan kita. Orang jenis ini, ga bakal bilang, “Apa dosa saya?” tapi akan rela dengan sepenuh hati menerima bencana itu meskipun sampai nyawanya melayang. Karena kematian, bagi orang jenis ini adalah jalan segera untuk bertemu Allah. Semoga kita bisa menjadi golongan orang jenis ini.

Jenis kedua adalah orang yang ibadah jalan tapi maksiatnya jalan. Proporsinya di sekitar 50:50. Nah bagi orang jenis ini, bencana mengandung arti PERINGATAN. Wooiiii ingat!! Tinggalkan tuh maksiat! Lalu orang jenis ini sadar dan beristighfar untuk kemudian memperbaiki diri.

Dan jenis terakhir adalah orang yang lebih banyak maksiatnya daripada amal baiknya. Berdzikir dengan ruku dan sujud (shalat) jarang. Shaum cuma di hari pertama Ramadhan aja. Kurban cuman makannya aja. Berbisnis curang. Maksiatnya lebih banyak lagi. Saya suka bingung dengan jenis orang kek gini. Emangnya orientasi hidup mereka itu apa? Ya sudahlah, biarkan saya dengan kebingunannya. Yang penting, orang yang baca tulisan ini ga termasuk ke dalam jenis orang kek gini. Karena untuk orang kek gini, bencana yang datang mengandung AZAB Allah di dunia. Na’udzibillaah.

13 thoughts on “Bencana: Ujian, Peringatan atau Azab?

  1. Wah… buatku (yg gak baek2 amat, alias kadang masih ada elemen maksiat terselip) barangkali ini masuk ke kategori peringatan yaa.. Hm..🙂

  2. ikut amiin… semoga ini bukan azab untuk Indonesia. semoga saja datangnya ujian dan peringatan ini membuat kita semakin banyak belajar lagi…

  3. Bencana ini adalah sarana Tuhan untuk melahirkan pakar musibah dari Indonesia. Setelah tsunami, Aceh bisa damai. Siapa tahu setelah gempa Padang akan semakin dikenal menjadi tempat wisata eksotis menyamai Bali. Btw, musibah itu kan dalam kacamata manusia. Dalam perspektif Tuhan, kematian manusia itu kan biasa saja. Kematian kata Prof Komarudin Hidayat, adalah boarding pass menuju pesawat yang kita tuju. Jadi, enjoy ajalah. Memang caranya macam2. Barangkali kematian dengan ketimpa gedung runtuh bisa jadi lebih nikmat daripada mati ditabrak truk atau diserempet Trans Jakarta. Wallahu a’lam.

  4. Dalam bahasa Jepang ada istilah kamisama no itazura…. keisengan Tuhan. Tapi masak iya sih Tuhan isengnya sampai membuat bencana? Kalau manusia sih bisa dipercaya, kadang ada yang iseng sampai melukai/mencelakakan orang.

    EM

    mangkum:
    Orang Jepang emang iseng…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s