Keberuntungan Gunung Papandayan

Gunung Papandayan: longsor akibat letusan Papandayan tahun 2002 mengakibatkan teputusnya akses jalan

Ini adalah kali pertama saya naik gunung. Sejak SMU, seringkali temen-temen ngajakin naik gunung Gede Pangrango. Ga tau kenapa, kok saya ga tertarik yah. Baru tertarik naik gunung setelah lulus kuliah. Itu juga ga bisa langsung direalisasikan karena ada satu dan lain hal yang mengharamkan saya naik gunung. Dan al-hamdulillah kali ini, di pergantian taun 2009-2010 ini, saya sudah halal melakukannya. Yippieee….!

Sekitar pukul satu siang, bis Primajasa yang saya sama Mang Asep tumpangi melaju dari poolnya di Cawang menuju Garut via Cipularang-Padaleunyi. Sekitar pukul lima sore, bis sudah sampai di Kabupaten Garut. Masih ragu-ragu apakah kami akan turun di Leles menuju Situ dan Candi Cangkuang ataukah langsung menuju kota Garut untuk secepatnya mencapai Gunung Papandayan. Meskipun cuaca rintik-rintik hujan, kami memutuskan untuk berhenti saja di alun-alun Leles.

Di peta Nokia Maps, jarak antara alun-alun Leles ke Situ dan Candi Cangkuang adalah 2,8 km. Cukup dekat kalau mau jalan kaki. Tapi kami ga memilih jalan kaki karena cuaca hujan dan malam sudah bersiap mengganti siang. Kami menyewa sado saja seharga Rp10 rebu. Dan ternyata, jaraknya adalah 7 km-an. Wew kok beda jauh sih petanya Nokia (Google Maps juga menunjukkan jarak 2,8 km). Sampai di Situ Cangkuang, petugas penjaga tiket sudah pulang. Sudah lewat jam kerjanya. Namun masih ada tukang rakit di sana yang nawarin jasanya menyebrang ke sebuah pulau kecil di tengah-tengah situ. Di sanalah Candi Cangkuang berada. Kami menyewa rakit itu seharga Rp15 ribu untuk jarak tempuh sekitar 200 meter saja. Ternyata, loket karcis Candi Cangkuang sudah tutup juga. Tapi petugasnya masih ada di sana. Dengan buru-buru karena hujan rintik-rintik semakin menderas, kami masuk ke Candi yang hanya satu unit bangunan kecil itu. Sedikit kecewa sih, ternyata nama Candi Cangkuang yang terkenal itu cuman segini. Hehehe… Cuman sekali jepret foto, kemudian kami segera berlari menuju rakit dengan sebelumnya membayar Rp2000 per orang.

Setelah laporan sama Allah di masjid sekitar situ, kami melanjutkan perjalanan ke alun-alun Leles pakai ojek @ Rp10 rebu. Perut yang sudah lapar, memaksa kami menyantap ayam kampung bakar di sekitar sana. Maknyus. Setelah belanja makanan kecil dan minuman ringan (kalau minuman berat, berat juga bawanya :P) buat nanti malam di Papandayan kami naik angkutan umum ke terminal Guntur Garut. Dari sana kami menyambung angkutan umum Garut-Cikajang dan berhenti di pertigaan menuju Papandayan.

Kami turun dari angkutan itu bersama empat orang lainnya yang mau naik Papandayan juga. Mereka dari Jakarta juga. Sempat ngobrol di angkutan dan salah satu dari mereka pernah ke mari beberapa tahun silam. Oleh karena itu, kami ikut aja apa yang akan dilakukan kelompok itu. Termasuk menolak tawaran mobil bak terbuka menuju lapangan parkir Gunung Papandayan. Kami memilih berjalan saja daripada harus bayar Rp10 rebu. Ga masalah buat kami harus bayar segitu tapi kalau cuman berdua, si supir ga mau.

Kami berjalan menanjak sambil ngobrol di jalan lebar beraspal. Kelompok itu memilih beristirahat dulu sehingga kami jalan duluan. Sempat bertemu tiga anjing yang membuat kami ketakutan. Tapi saya udah berencana, kalau satu anjing nyerang bakal saya tendang aja. Untung bayangan saya ga terjadi. Aman-aman aja. Ketiga anjing itu cuma menggertak kami dengan gonggongannya. Belagu mentang2 suaranya lebih nyaring. Tidak lama kemudian ada mobil bak terbuka lewat menawarkan tumpangannya. Kami naik dengan segera.

Tanpa disadari ternyata… perjalanan kami yang sudah membuat pundak terasa sakit manggul backpack tadi baru berjarak 1/5 menuju tempat parkir. Walah! Kacow juga tuh kelompok yang tadi. Baru aja kami sampai di parkiran Gunung Papandayan dan mendaftar, kami ketemu mereka baru turn mobil bak terbuka. Tertawalah kami menertawakan nasib masing-masing. Dasar gelo!!

Malam itu ramai sekali. Ada panggung musik yang disponsori perusahaan tembakau. Ada juga kembang api. Banyak orang-orang lokal pakai motor ke sana. Ramai. Menjelang detik-detik pergantian tahun, para pengendara motor menyalakan motornya memeriahkan tahun baru. Hanabi beterbangan di langit Papandayan. Ada juga motor vespa yang dari knalpotnya mengeluarkan api. Entah bagaimana caranya.

Karena ga bawa tenda, kami tidur di bangku warung yang lebarnya cuman dua jengkal. Saya mengenakan jaket, kaus kaki, sarung tangan, pelindung kepala dan telinga, kemudian badan ini kami masukkan ke dalam sleeping bag. Malam yang dingin. Semakin Shubuh semakin dingin disertai angin yang kencang.

Meskipun dingin, kami harus segera bangun dan lapor sama Sang Penguasa. Namun setelah tersucikan air kulkas wudlu, saya udah ga kedinginan lagi. Kami titipkan backpack di warung tadi dan naik menuju kawah Papandayan hanya berbekal tas kamera. Hayah cuman 15 menit dari parkiran ternyata sudah sampai kawah LOL. Hunting foto sunrise deh di sana. Sangat disayangkan, pada musim penghujan, tempat sunrise berada di tenggara yang kehalangan bukit. Tapi ga masalah, pemandangan Gunung tetangga sangat menarik untuk diabadikan di kamera Kiss X3 dan D40 kami.

Ga mau kalah dengan seorang anak kecil, sekitar kelas 4 SD yang diajak tracking sama orang tuanya, kami bersemangat menyusul mereka. Sambil ambil foto kami melakukan tracking menuju Pondok Saladah. Namun sayang, akses jalan penghubung ke sana, terputus akibat longsor dari letusan Gunung Papandayan tahun 2002 lalu. Ini mewajibkan kami dan penduduk lokal untuk mengarungi lembah yang beberapa treknya curam.

Perut yang lapar saya tahan karena kata orang-orang, 100 meter sebelum Pondok Saladah ada warung makan. Dan alhamdulillaah saya bisa mengganjal perut saya meskipun dengan gorengan dan dua mie instan rebus. Setelah energi teralirkan di sekujur tubuh, kami melanjutkan ke tujuan kami: Pondok Saladah. Tapi waladah! bukan 100 meter ternyata, jarak yang benar adalah 500 meter. Biasalah, dekat orang gunung mah beda dengan dekat orang kota. “Itu dekat di sana” padahal taunya di balik bukit. Wew ah.

Di sana, kami bertemu serombongan motocrossers Bandung yang akan melewati trek yang tadi saya lalui. Pas saya ngobrol sama salah satu pengendaranya, dia bilang dengan yakin kalau mereka akan melewati trek itu. Dahsyat emang nyali mereka, memompa kelenjar adrenalin😛

Sampai di Pondok Saladah sekitar pukul setengah sebelas. Pondok Saladah ternyata adalah area datar untuk nge-camp. Sudah banyak tenda dan orang-orang nge-camp di sana. Hujan turun dan kami pun berlindung di tenda Posko Pondok Saladah. Karena takut hujan semakin deras, pada saat gerimis kami balik kanan menuju tempat parkiran. Kali ini ga pakek foto-foto. Sepanjang perjalanan saya melihat tapak ban motocross. Emang bener ternyata mereka lewat sini. Gile…

Tanpa foto-foto, kami berhasil tiba di parkiran hanya dalam satu setengah jam. Di sana kami bertemu rombongan motocrossers tadi. Alhamdulillaah aman-aman aja tuh mereka. *geleng-geleng kepala*. Sepuluh jempol deh buat mereka.

Sebelum pulang ke Jakarta, dari Papandayan kami melipir dulu ke onsen a.k.a hot springs di bilangan Cipanas. Bener-bener deh, airnya hot seperti kesiram air termos. Bisa mateng kalau lama-lama berendam di sana. Awalnya kepanasan, tapi lama-lama kok saya jadi betah juga. Ga boleh lebih dari 15 menit berendam di sana, begitulah aturan yang tertulis di sana.

Setelah segar onsen, kami berpulang ke ibukota Jakarta. Alhamdulillaah, pengganti liburan ini sangat menyenangkan (awalnya berencana ke Bromo, Bali & Lombok, sudah beli tiketnya, tapi saya sakit dan ga jadi deh). Beruntung sekali Gunung Papandayan menjadi gunung pertama yang saya jamah.

Foto-fotonya silakan tengok di mari.

9 thoughts on “Keberuntungan Gunung Papandayan

  1. Gambarnya asyik..
    Beli aja kantong tidur mang.. seperti Narpen dan teman-temannya, sangunya kantong tidur, jadi jika tak ketemu rumah penduduk yang bisa dipakai untuk nginep, tinggal cari lapangan dan bentangkan kantong tidur hahaha

    Biasanya penduduk ga tega kalau lihat ada cewek…mana kecil mungil begitu dikelilingi cowok….hehehe

    mangkum:
    Udah beli Bu. Kepake juga sih.
    BTW Narpen jadi petualang gitu ya… Tapi belum sempet trip bareng nih😀

  2. Kok kita nggak ketemu yah … ? saya juga ke Papandayan tapi sebelum pergantian tahun … BTW, foto-nya bagus-bagus …

    mangkum:
    Makasih Pak.
    Haha… tracking sampai mana Pak?

  3. Waw …
    Ini cerita dibalik foto yang kemaren ya Pey …
    Ah … masih kuat nggak ya …
    saya naik gunung …

    Salam saya Pey

    mangkum:
    Kalau kata ayahnya grup musik The Moffats sih pasti bisa.
    Salam balik juga Om😀

  4. aih, asyiknya… saya juga sudah amat sangat lama sekali tidak naik gunung. kalau ditantang sekarang, pasti saya akan menyerah, hahaha…😀

    btw, kenapa kok sampai mengalami fase “haram” naik gunung mang?
    *penasaran mode : on*😉

    mangkum:
    Hehehe… haram naik gunung karena satu dan lain hal, Uda… Hihihi… teuteup…

  5. wah, apa itu Mang, hal2 yang mengharamkan naik gunung? hehehe.

    iya, mang, dekatnya orang gunung beda jauh sama dekatnya orang kota. hehe

    mangkum:
    Hal2 yg mengharamkan naik gunung, hm… hahaha…

  6. Seneng sekali ya berpetualang… Kalo saya lebih sering jalan ke Pantai dan belum pernah naik Gunung. Eh, pernah ding sekali pas waktu masih kuliah, jalan naik Jayagiri sehari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s