Kalau Bukan Karena Menara Kembar Petronas…

Hari #7 & 8 backpacking
23 & 24 Maret 2010

Dari Phuket kami terbang ke tujuan terakhir: Kuala Lumpur. Landing di LCCT (Low Cost & Carrier Terminal) jauuuh di pinggiran Kuala Lumpur. Saking minggirnya terminal ini, pas landing terlihat cantik pemandangan aerial kebun kelapa sawit. Hm… di sinilah pusatnya AirAsia.

Aerial View: Kebun Kelapa Sawit
Aerial View: Kebun Kelapa Sawit

Petugas imigrasi Malaysia duh menjengkelkan. Bahasa Melayunya ga ngerti. Logatnya ga pas di telinga gw. Melongo. Dia bilang “Cepe pun” berkali-kali sambil melirik rekan kerja di sampingnya. What the meaning of cepe pun?

TIP:
Mau diapa-apain, kalau di imigrasi mendingan pasrah aja. Daripada-daripada.

Di tujuan terakhir ini, saya hanya bertiga teman saja yang bermalam di ibu kota Malaysia ini. Sementara dua teman lagi hanya transit untuk terbang lagi pada malam hari pulang ke Jakarta. Setelah say goodbye, kami naik shuttle bus ke pusat kota KL Center. Dari KL Center kami melanjutkan perjalanan menggunakan kereta ke stasiun Masjid Jamek. Penginapan yang telah kami booking jauh-jauh hari di Malaysia berada di sekitar Masjid Jamek. Kami berjalan menuju Tun Hs Lee di mana Backhome Hostel berada. Dekat. Dan tempat makan dan minimarket banyak di daerah sana.

Masjid Jamek
Masjid Jamek

Sampai di hostel, hujan turun. Kami diam saja di kamar, beristirahat. Nahas, salah satu teman ketinggalan tas belanjaan dari Jatujak. Baru ngeh setelah hujan reda tasnya tertinggal di depan stasiun Masjid Jamek, namun barangnya sudah entah ke mana.

Backhome Hostel
Backhome Hostel

Kamar yang saya tempati terdiri atas 4 tempat tidur. Satu bule dari Los Angeles udah entah sejak kapan tau menempati salah satu tempat tidur di sana. Kerjaannya freelance photographer. Dia sedang mengedit hasil jepretannya di Macbook di atas kasur.

Pengen liat sunset di Petronas tapi males. Jadinya malam ke sana. Emang Petronas ini bagus difoto dan dinikmati malam-malam. Cahaya yang dipantulkan bangunan kembar ini sangat cantik. Bernarsislah kami di sana dengan bermacam-macam gaya. Untung, tripod yang berat-berat saya bawa kepake juga di KL. Di dalem gedung kebanggaan orang Malaysia ini, nangkring mobil formula satu yang disponsori Petronas. Puas menikmati menara kembar, kami pulang jalan kaki ke Hostel. Jauh bo.

GEAR:
Untuk memotret malam hari, bawalah tripod. Dengan diset waktu bukaan kamera lebih lama, cahaya lampu seperti lampu penerang jalan menjadi berbentuk bintang.

Petronas Twin Tower
Petronas Twin Tower
F1 yang disponsori Petronas
F1 yang disponsori Petronas

Besok paginya, malas sekali menggeser bokong ini untuk jalan-jalan. Bosen di KL. Pengen pulang. Tapi ya kalau bukan karena Menara Kembar Petronas, saya pengennya langsung ke airport aja. Jam setengah delapan saya berdua dengan teman, langsung berangkat duluan buat ngantri naik skybridge Petronas. Sedangkan dua teman lagi menyusul. Takut tiketnya kehabisan. Tapi alhamdulillaah pas saya ke sana, dapet antrian di baris kedua. Sedangkan teman di baris keempat.

FACT:
Pelancong boleh naek ke skybridge menara Petronas gratis. Ngantrinya dari pagi. Kalau berkelompok, ga udah ngantri semua. Satu orang boleh memesan tiket untuk beberapa orang. Untuk jam berkunjungnya, boleh memilih jam berapa. Di area antrian, ada layar menunjukkan ketersediaan pelancong dibagi per jam. Biar dapet jatah naek, usahakan jam 7 pagi udah ngantri di sana.

Aerial View dari Skybridge
Aerial View dari Skybridge
Nebeng narsis ah di Skybridge :P
Nebeng narsis ah di Skybridge😛

Di skybridge cuman dikasih waktu sekitar 10 menit atau 15 menitan. Dimaksimalkanlah foto-fotonya. Tapi saya lupa lensa kamera ga dipasang filternya dan saya ga bawa tas kamera. Filter CPL berfungsi untuk mengurangi refleksi pada kaca. Hm… jadi weh susah moto keluar kaca karena bayangannya ketara banget. Pas menit terakhir mau udahan, saya baru ngeh, kalau filter CPL ini ada di dompet yang saya bawa, bukannya di tas kamera. Dwoh!!! Buru-burulah dipasang dan jepret-jepret seadanya.

Puas udah naek salah satu menara tertinggi di bumi, kami pulang ke Hostel pake Taxi lagi. Namun, supir taxi yang orang Melayu ini tolol. Kami malah diputer-puter. Leuheung mun nepi ka hostel, ieu mah eureun di mana, urang oge teu apal. Supir tolol bin dungu, otakna koclak! Masa Masjid Jamek aja ga tau. Bener-bener BAKA dan AHO! Jadinya kami jalan kaki deh.

Siang-siang niatnya menuju Jalan Petaling. Tapi malah jalan kebalikan arah. Weleh! Yaudah jadinya ke Menara KL aja tapi ga ke naek. Mahal. Males. Gitu doang. Macem menara TVRI eta mah. Ga tertarik. Jalan-jalan akhirnya nyampe ke pusat mall di KL: Bukit Bintang. Mahal-mahal euy. Habis itu, pulang pake kereta ke Hostel.

Menara KL
Menara KL

Jam 15 kami menuju KL Central pake kereta. Dari sana naek shuttle bus menuju LCCT. Weleh… ini bis ngetemnya lama benerrrr… Di jalan juga traffic. Rush hour pas pulang kerja. Mana perjalanannya jauh lagi. Kami di dalam bis panik takut ketinggalan pesawat. Kami sepakat setelah turun dari bis, cek hati-hati barang jangan sampai ketinggalan, lalu lari sekencang-kencangnya menuju imigrasi dan check in. Untungnya imigrasi ga ngantri. Check ini juga ternyata yang terakhir. Pegel juga nih kaki dan badan diajak lari sambil bawa gembolan. Almhamdulillah ga ketinggalan pesawat.

Kami duduk dengan riang di flight kelima di hari ke delapan backpacking ini. Senang bisa kembali ke Jakarta lagi. Namun kami sepakat, kami harus dipaksa terlebih dahulu agar mau trip ke KL lagi. Cukup! Kalaupun transit mendingan ngajedog di bandara yang penduduknya rasis terhadap orang Indonesia ini.

Last flight
Last flight

Alhamdulillaah, pulang dengan selamat dan sehat. Makasih teman backpacking, AirAsia, hostelworld dan kolega kantor. Namun, sampai kos jam 11 malam, saya ga bisa langsung leha-leha karena kerjaan menanti. Langsung kerja dan cuman tidur (ketiduran) satu jam…. *fyuh*

Semoga di lain kesempatan saya masih bisa menambah footprints di peta dunia ini. Nextnya pengen ke negaranya Nodame atau menuju tanah kakek moyang: China. Sampai jumpa…! Semoga bisa menikmati catatan perjalanan saya ini😀

Foto-fotonya silakan intip di situ.

One thought on “Kalau Bukan Karena Menara Kembar Petronas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s