Mentalitas Peminta

Kemarin saya bersama beberapa teman pergi ke walimahan nikah teman SMA sekaligus guru les bahasa Inggris IELTS dan TOEFL kami di Cianjur. Seperti biasa, kalau dari Jakarta ke Cianjur pasti lalu lintas Puncak padet. Kepadatan lalu lintas kini bertambah dengan sumber kemacetan baru (ga baru-baru amat sih) yakni dengan keberadaan Taman Wisata Matahari.

Sejak keluar pintu tol Ciawi belok ke arah Gadog, kemacetan sudah terjadi. Banyak orang-orang lokal yang memberikan jasanya untuk menunjukkan arah melalui jalur tikus yang nanti bakal keluar di jalan tepat sebelum belokan Taman Safari di mana kemacetan sudah sirna. Kami merekrut salah satu dari mereka lalu putar balik ke arah pintu tol Ciawi lagi. Namun sebelum gerbang tol kami belok balik dan masuk ke area peristirahatan lalu dimulailah petualangan jalan tikus.

Saya bukan ingin ngasih tau peta jalan tikus itu pake Google Maps, tapi ada hal yang menarik yang bikin iba. Iba bukan karena kasian karena kesengsaraan materi, namun ini adalah iba karena kemisiknan mental.

Di belokan pertama udah hadir Pak Ogah. Belum aja sepuluh meter, banyak anak kecil yang jadi Pak Ogah, ga jelas apa jasa yang mereka tawarkan untuk kami. Terussss…. di setiap belokan hadir orang-orang mulai dari anak kecil sampai kakek-kakek “memajaki” mobil-mobil yang melewati jalur tikus. Mungkin kalau tiap belokan dikasih seribu perak, di sepanjang jalan tikus itu setiap mobil yang lewat akan mengeluarkan uang lebih dari dua puluh rebu perak. It’s not about the money, it’s all about the dum dum dudududum. Ini adalah masalah mentalitas peminta.

Melihat fenomena menyedihkan ini jadi teringat kisah teman yang backpacking ke Philipina. Di sana ga ada pengemis ga ada peminta-minta. Kamu tahu lah Philipina sama Indonesia, ekonominya siapa yang lebih baik sekarang? Katanya dulu Philipina macem Korea Selatannya sekarang. Namun konon katanya akibat “dana aspirasi” ekonominya jadi melorot. Kini negara kita kemungkinan bakal membuntuti mereka dengan dana aspirasi yang triliunan Rupiah yang diperjuangkan ketua Golkar. Kenapa di Philipina ga ada pengemis?, itu karena mental mereka yang ogah minta-minta. Malu, katanya. Malu sama Tuhannya sebagai pemberi rizqi.

Dari Philipina mari kita melancong jauh ke Asia Tengah. Agustinus Wibowo di Kompas.com pernah bercerita mengenai backpacking dia ke salah satu negara termiskin di Asia Tengah. Penduduknya miskin sekali. Namun untuk urusan seragam sekolah yang necis, ga bisa diabaikan. Daripada beli buku mereka milih beli seragam. Cara pandang yang aneh bagi orang miskin padahal untuk makan pun sulit. Namun, tiada penduduk di sana yang mengemis-ngemis. Malu, katanya. Meminta-minta seperti tidak punya harga diri.

Dari Asia Tengah kita mendekat ke negeri tetangga Thailand. Pada saat tsunami besar terjadi beberapa tahun lalu, anak-anak yang menjadi korban ditanya apa yang diinginkannya. Anak Thailand bilang, beri kami perahu biar kami bisa cari uang. Anak Indonesia yang diwakili Propinsi DI Aceh kala itu, bilang, beri kami uang, bangunkan kembali kami rumah. Ini adalah kisah dari Ayah Edy (kurang lebih begitulah ceritanya, maafkan kalau kurang, kalau lebih jangan dikembalikan :D). Bisa dibandingkan kan, mentalitas mereka?

Baiklah, kita harus akui, bahwa mentalitas bangsa kita adalah mentalitas peminta kalau ga mau dibilang mentalitas pengemis mah. Ada yang salah. Saya ga ngajak kamu untuk merubah itu. Tapi rubahlah diri sendiri, keluarga terutama anak-anak kita jangan sampai bermental seperti itu. Kemudian ajak tetangga untuk lebih baik. Teruus… nanti kita bisa merubah Indonesia. Ga gampang memang, tapi ga ada cara lain. Cara ini yang dilakukan Rasululllah saw berda’wah. Dan cara ini yang ditulis di prasasti makam Westminster Abbey di Inggris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s