Memilih Konsekuensi

Setiap saat kita dihadapkan dengan pilihan. Ada yang menelisik dulu, kalau dia milih ini apa kira-kira yang akan terjadi. Ada juga yang maen sikat aja, gimana nanti deh. Pilihan-pilihan itu hadir sejak kita bangun tidur sampai bangun tidur lagi.

Pilihan pertama adalah: bangun sekarang atau lima menit lagi. Udah bangun, pas mandi, pilihannya adalah gosok gigi dulu, sabunan atau shampooan dulu. Pake baju: dipilih-pilih. Mau berangkat, milih pake moda transportasi apa: motor, sepeda, mobil, ojek, Kopaja, busway, bis kota, jalan kaki. Di kantor, milih-milih mau ngerjain kerjaan yang mana dulu. Itu adalah pilihan rutin yang dampaknya ga begitu besar terhadap alur kehidupan.

Pilihan-pilihan besar adalah yang memiliki konsekuensi besar terhadap perubahan alur kehidupan. Milih jodoh. Milih kuliah di mana. Milih bekerja di mana. Pilihan berat adalah memilih untuk melakukan hal yang negatif, misalnya memilih korupsi, memilih selingkuh, memilih curang dalam bisnis, memilih mengabadikan hubungan sex atau foto bugil.

Pilihan untuk korupsi misalnya. Orang sudah tau kalau memilh korupsi maka konsekuensinya adalah pensiun di penjara kalau ketahuan. Semua orang tau konsekuensi itu. Kalau selingkuh terus ketauan anak istri, maka malu sama mereka, kalau digerebek warga, maka bisa jadi dipukulin. Semua orang tau konsekuensi itu. Kalau memilih curang dalam berbisnis, maka konsekuensinya adalah ditinggalkan mitra bisnis. Semua orang sudah tau konsekuensi itu. Memilih untuk mengabadikan hal-hal mesum, konsekuensinya adalah malu kalau media itu tersebar. Semua orang tahu konsekuensi yang tidak menyenangkan itu.

Tapi….

Tetep aja masih banyak yang memilih pilihan dengan konsekuensi yang ga menyenangkan itu. Okay kalau dia menerima dengan ikhlas, ga masalah. Dia mengambil pilihan dengan konsekuensinya. Namun ada jenis orang yang milih hal yang negatif tapi ga mau ngambil konsekuensi. Misalnya selingkuh yang ketauan warga, tapi protes kalau digebukin warga. Di Indonesia, emang masyarakatnya seperti itu, maen hakim sendiri dan suka banget nyampurin urusan orang lain. Udah masyarakat kita itu seperti itu, milih selingkuh tapi ga mau digebukin. What the hell! Jangan nyalahin masyarakat yang memiliki tabiat seperti itu sekarang karena berbuat selingkuh bukan cara untuk mengubah masyarakat agar menjadi lebih baik.

Bloggers, memilih sesuatu berarti memilih konsekuensinya juga. Paket.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s