Thriller: “Jangan Ragu-Ragu”

Di jalan kamu ketemu tetanggamu, seorang bapak-bapak sambil membawa golok berjalan sama anaknya. Kamu tersenyum kepada bapak itu dan bertanya-tanya ngapain si bapak itu bawa-bawa golok.

“Pagi Pak. Bawa-bawa golok bapak mau ke mana?”
“Pagi juga dek. Oh ini, saya mau menggorok leher anak saya”
“Heh!?”

Kamu merasa ketakutan dan kasian sama anak yang masih SMP itu.

“Loh kok bapak jahat bener mau memenggal leher anak sendiri. Emangnya kenapa?”
“Ini perintah Tuhan, dek”

Kamu bingung. Padahal dia adalah orang yang terkenal sangat soleh di kampungmu.

“Ah bapak sesat nih, ajaran Tuhan mana yang nyuruh nyembelih anak sendiri?”

Si bapak cuman terdiam lalu melanjutkan perjalanan sama anak lelaki satu-satunya itu.

“Istighfar Pak! Alih-alih dapet pahala dari Tuhan, malah bapak bisa dihukum Tuhan karena membunuh anak sendiri!”, kamu mengingatkan si bapak itu.

Di belakang bapak itu kamu melihat istrinya tak tahan membekukan air matanya. Kamu memeluknya sambil berbisik, “Sabar ya bu. Kok bisa jadi begini sih?”

“Saya juga ga tau dek. Bangun tidur, bapak bilang dapat perintah dari Tuhan untuk menggorok anak itu. Saya udah melarangnya tapi mau gimana lagi, bapak bersikeras. Saya cuman pasrah aja. Kata bapak, itu perintah Tuhan.”

“Ah, kok dunia semakin aneh saja”, kamu bergumam dalam hati. Kamu mempererat pelukanmu pada ibu tua itu. Air mata ibu itu membasahi bagian pundak bajumu. Kamu elus-elus punggungnya.

Kamu kemudian menyusul bapak itu. Kamu benci sama bapak itu tapi kamu juga ketakutan. Di suatu tempat si bapak dan anak itu berhenti. Kamu melihat mereka dari balik pohon. Si bapak mengasah goloknya setajam mungkin. Pantulan matahari dari golok itu menyilaukan matamu. Anak kecil itu ga banyak berontak, dia tidur saja di atas papan di mana lehernya akan ditebas.

Kamu jadi ga habis pikir, ada apa dengan keluarga itu. Tiba-tiba jadi keluarga aneh. Bapaknya jadi biadab. Istrinya ga punya kekuatan untuk mencegah. Eh anaknya mau-mau aja digorok bapaknya. Dunia jadi semakin edan. Kamu ingin mencegahnya tapi ga berani.

“Keluarga ini kesesatannya nyata”, begitulah menurut hati kecilmu. “Mana ada Tuhan yang menyuruh perbuatan jahat kek gitu? Apa Tuhan butuh nyawa anak itu? Apa Tuhan butuh darah dan daging anak itu? Apa Tuhan butuh juga tulang-tulangnya?”

Si bapak mengangkat golok itu tinggi-tinggi. Dia memejamkan mata dan berkomat-kamit sejenak. Kemudian dia menghembuskan napasnya, ragu-ragu untuk menggorok anak sendiri. Kamu ga tahan menyaksikan kelakuan biadab itu. Tanpa sadar kamu menutup matamu dengan kedua tanganmu. Ga tega melihat kejadian itu.

“Silakan Pih, potong leher saya jangan ragu-ragu”

-tamat-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s