Menghilangkan Nyawa

Saat bulan puasa beberapa tahun lalu, Bapak tabrakan. Beberapa tulang patah. Jadilah lebaran pada saat itu, diam di rumah, ga kemana-mana. Dan saat itu, off the record, saya jadi benci sama kelakuan Kakak saya. Untuk itu, Bapak dirawat beberapa hari di tukang pijat khusus untuk tulang patah di daerah Cageunang, antara Cipanas dan Cianjur. Di tempat ini, dulu, kakak saya juga pernah dirawat ketika patah tangan dan sekarang sembuh total.

Kini, yang merawat adalah anak dari tukang pijat Kakak saya, karena Bapaknya sudah meninggal. Ketika berbincang mengenai tukang jagal, dia bilang, paling tidak mau jadi tukang jagal. Dosanya gede. Menyembelih artinya menghilangkan nyawa yang Tuhan berikan. Karena dia takut tidak bisa memperlakukan hewan dengan baik, dia tidak mau menyembelih.

Baru sadar dari dia bahwa iya, orang yang menyembelih hewan: ayam, kambing, sapi, kerbau, adalah orang yang berpartisipasi mencabut nyawa. Makanya dalam Islam, ada aturan fiqh tertentu yang mengatur bagaimana cara menyembelih agar memenuhi syarat halal. Kalau caranya tidak sesuai maka hewan itu bisa jadi haram dan ga boleh dimakan sama sekali.

Fiqh menyembelih binatang adalah ajaran memuliakan binatang. Menyembelih harus dengan nama Allah, bismillaah, tidak diniatkan untuk selain Allah, sesajen dsb. Makanya, tanpa bismillah, hewan jadi haram.Dilarang membunuh hewan kalau bukan untuk dimakan. Di film Ice Age, si gajah besar marah ketika sang Singa ingin membunuh, siapa namanya hewan kecil itu, bukan untuk dimakan. Tapi dia mempersilakan singa untuk membunuh hewan kecil itu kalau untuk dimakan. Islami nih film🙂. Pisau untuk menyembelih harus sangat tajam. Sekali sabetan: dari bawah ke atas, dua urat harus putus, yakni kerongkongan dan tenggorokan. Jika pisau diangkat untuk melihat apakah dua urat tersebut putus atau ngga, eh ternyata belum putus, maka jadi haram. Haram adalah balasan bagi orang yang tidak menghargai nyawa binatang.

Di samping fiqh, ada juga akhlaq pada binatang. Ajaran Islam tidak berhenti sampai tata cara (fiqh) tapi ada akhlaq, karena akhlaq adalah buah dari keimanan. Berbuat baik pada binatang adalah cerminan dari keimanan. Pas saya SD, sama guru agama dilarang melempar anjing dengan batu. Saya bingung. Kok ga boleh sih? Kan anjing bisa ngejar saya kalau ga dilempar. Note that, dari rumah ke sekolah, saya harus melewati rumah dengan anjing kelaparan (dipikir2 gebleg tuh Polisi miara anjing sampe ngejar2 anak SD). Agak susah menerapkan ajaran akhlaq yang diajarkan guru agama saya tapi ternyata berhasil juga. Saya tidak perlu melempar anjing dengan batu agar tidak dikejar. Tapi pernah dikejar dia pas beli bakso (kelaparan tuh anjing, bego juga yang punyanya). Saya sempat ga setuju masalah melempar anjing dengan batu itu sama guru agama. Tapi ya… saya manut aja..😦

Yang terjadi di tempat jagal seperti yang dipertontonkan vidoe ini bukan hal baru. Pas saya SD mendapatkan ilmu fiqh menyembelih hewan terus melihat orang pake sepeda bawa ayam yang sudah disembelih dan bulunya dicabutin ke pasar jadi rada kaget. Dua uratnya tidak putus total, tapi sobek doang. Haram dong! Ternyata pas jalan2 ke pasar, semua ayam utuh itu, uratnya tidak semuanya putus. Jatuhnya haram menuruh fiqh mazhab Imam Syafi’i. Gatau kalau aturan mazhab lain.

Pas mahasiswa, saya membaca berita bahwa cara penyembelihan ayam tidak dengan pisau, tapi dengan direndam di air panas, terus kedua urat di lehernya diputus pake kawat or something, bukan disembelih dengan pisau. What?! Pas cerita ke adik kelas, dia merasa kaget juga. Dia tanya dari mana infonya? Ternyata bapak dia adalah tukang dagang ayam dan juga menyembelihnya. Saya bilang, “Coba cek ke Bapak kamu, apakah dia telah menyembelih ayam dengan islami?

Jadi, memang mayoritas orang Indonesia adalah muslim, tapi belum tentu islami. Banyak ajaran-ajaran yang masih tidak diketahui, dilaksanakan dan dipahami dengan baik. Kuncinya adalah pendidikan di mana salah satunya adalah pendidikan agama yang baik. Jadi menurut saya, orang Australia (yang ternyata lebih Islami daripada muslim Indonesia), daripada mem-ban export hewan ternak hidup ke Indonesia, mendingan ngasih pendidikan di tukang jagal bekerja sama dengan MUI. Ah semoga MUI-nya bisa diharapkan🙂.

*Tulisan ini terinspirasi tulisan teman kuliah saya yang paling pinter (se-IPB) di Jakarta Post. Disertasi Doktornya meneliti hubungan pendidikan agama dan ekonomi. Sempat bertukar pikiran tentang ekonomi dengannya🙂

One thought on “Menghilangkan Nyawa

  1. MasyaAllah…
    Hal2 seperti ini memang harus dimasyarakatkan….
    mang.. apa hal ini juga sudah disampaikan ke MUI ?
    or
    setidaknya MUI melakukan riset ttg cara penyembelihan yang biasa dilakukan oleh penyembelih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s