“Lutut Mau Copot”

Kali ini, Pemerintah Republik Indonesia akan menerbitkan Surat Berharga Pemerintah Ritel seri ORI008. Sebelumnya, Pemerintah telah menerbitkan seri ORI001 sampai dengan ORI007 dan SR001 sampai dengan SR003. Saya mau bagi cerita lucu aja di kantor pas SR003 awal tahun ini.

Saya dan beberapa kolega (yang baru dan yang sudah keluar) selalu bertugas menjadi pembuat proposal dan laporan untuk Surat Berharga Ritel ini. Jadi total saya sudah 9 kali bikin proposal dan laporan tsb (ORI001 ga ikutan karena dipegang divisi lain). Cerita lucu terjadi ketika submit proposal untuk SR003 di mana ada salah satu kolega yang baru bergabung menjadi pembuat proposal bersama saya dan satu kolega lagi. Dia dari divisi sales and brokerage.

Seperti biasa, karena kerjaan banyak, jadi bikin prioritas. Dan untuk yang Surat Berharga Ritel ini suka dikerjakan beberapa hari sebelum hari terakhir. Malah seringkali (dan sudah jadi kebiasaan) saya submit beberapa menit sebelum waktu submit proposal ditutup. Di penerbitan sebelumnya, beberapa kali menyaksikan orang-orang dari Bank atau Sekuritas lain telat submit beberapa menit saja. Alasannya karena sulit mendapatkan tanda tangan atasannya yang terus di luar kota selama masa pembuatan proposal. Ada juga karena macet mengingat jarak antara Kemenkeu dan kantornya yang relatif jauh dan macet.

Meeting pembukaan proposal adalah meeting yang paling menengangkan selama hidup saya. Syarat-syarat sangat ketat dan dokumen yang disubmit tidak boleh kurang satu pun. Misalnya, proposal teknis harus rangkap 20. Kurang satu saja bisa bikin kita didiskualifikasi. Perjuangan membuat proposal yang memakan waktu banyak terbuang percuma. Seringkali, pas meeting tersebut, pas bagian pembukaan proposal dari perusahaan saya, saya melipir ke toilet sampai kira-kira sudah selesai dibuka baru kembali ke ruangan. Gimana ga tegang? Kalau didiskualifikasi maka salah satu income perusahaan ga bakal diterima. Bisa diomelin habis-habisan sama tim dan direksi pula. High risk (tapi sayangnya) low return. Returnnya banyak dinikmati team sales, yang meskipun nanti ga kejual, ya saya lah yang bikin alasannya di analisa laporan nanti.

Saya senang sih ada team sales yang ikutan bikin proposal, biar tahu gimana anggota team lain bekerja. Nah… 30 menit sebelum penutupan pintu submit proposal, kami masih berkutat dengan proposal di kantor. Kami sibuk mondar-mandir ke sana ke mari. Jepret sana-sini. Lem kertas ini-itu. Print dokumen. Jilid. Bolak-balik ngitung memastikan jumlahnya tepat. Sementara dia, diam saja di meja saya sambil buka detik. Ga biasanya dia diam seperti itu, karena dia adalah orang terlucu di kantor. Lalu saya dekati dia.

“Mas, ada apa mas, kok diem gitu?”
“Saya ga bisa jalan nih”
“Loh emang kenapa?”
“Tegang, kurang dari setengah jam lagi, kita belum submit proposal” raut mukanya emang terlihat sangat tegang. Tapi kami malah tertawa… hahaha…

Sedikit berlari ke loby. Mobil sudah diminta standby sejak tadi di sana. Proposal kami masukan ke amplop di dalam mobil sambil bawa staples, gunting dan lem.😀

“Ayo mas, cepetan jalannya…!”
“Saya ga bisa jalan, lutut mau copot” .

Hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s