A Back Up Trip: Lake Toba

Mestinya, di akhir Oktober sampai dengan awal November ini, saya pergi ke Turki dalam rangka training tentang Sukuk & Islamic Capital Market. Namun big boss nyuruh cancel. Flight dan training yang sudah dibayar, jadi dibatalkan semua. Diundur ke bulan Desember ini.

Yasudah, saya berangkat untuk trip domestik di tahun ini. Pilihannya adalah Medan. Sebelumnya ga berencana ke Danau Toba, karena jauh. Namun, pas dicari info2 di internet termasuk milist indobacpakcer dan ibackpackerclub, ternyata deket, “hanya” 4 jam dari Medan.

Landing di bandara Polonia Medan pagi jam setengah sembilan. Ini kali pertamax saya menginjakkan kaki di Medan dan ini adalah kali keduax menapak pulau Sumatera. Beruntung banget Medan bisa nampang di “pejwan”🙂.

Jalan sebentar ke “jalan raya” untuk nyegat angkot 64 ke arah terminal amplas. Baru tahu, kalo di Medan untuk bilang berhenti, menggunakan istilah “Minggir bang” bukan “kiri” yang lumrah dipakai di Jakarta dan Jawa Barat. Kesan pertama buat kota Medan: rindang juga ya ternyata dan lalu lintasnya juga sama aja dengan Jakarta.

Sampe di terminal amplas, jarang calo yang ngerubutin. Pertanda bagus. Saya naik bis Sejahtera menuju Parapat, namun sayangnya bis AC udah berangkat duluan. Melirik PO Bis lain juga sama aja, adanya ekonomi. Tiada pilihan lain. Di bis, selain penduduk lokal, ada sepasang turis Jepang, sepasang turis dari Minang dan sepasang gay entah dari mana. Dem!!! Ongkosnya Rp22 ribu.

Bis ini melalui Tebing Tinggi dan Pematang Siantar. Pemandangan di sekitar jalannya kurang menarik. Hampir mirip pantura namun dengan tambahan kebun sawit PTPN dan kebun karet Bridgestone. Bis berhenti lebih lama di Pematang Siantar untuk menurunkan dan menaikan penumpang. Ternyata, yang dagang2 asongan di mari, adalah cewek. Ada cowok, pasti anak kecil.

Di perjalanan menuju parapat, ada orang yang nitip satu jerigen tuak khas penduduk lokal. Di pinggir jalan juga di jual di botol-botol bekas air mineral. Air tuak di jerigen itu muncrat-muncrat karena memang tekanan dari dalam jerigen itu dan jalan yang sedikit ajrut-ajrutan. Baunya ga enak. Bikin mual. Untungnya saya di samping jendela jadi ga terlalu terhirup uapnya kecuali pas bis berhenti, baru deh semilir…

Nyampe di dermaga Tiga Raja, saya dan turis lainnya langsung bergegas menuju sirine yang meraung-raung memanggil-manggil calon penumpang. Ternyata ga menunggu lama, kapal yang hanya berisis belasan orang, termasuk orang Amerika dan Belanda, melaju ke pemberhentian pertama: Carolina Cottages. Mungkin sekitar 15 menitan. Bayarnya Rp7 ribu. Saya langsung turun dan check in.

Cottagenya pas di pinggir danau. Bisa berenang di sana. Namun, meski danau, kenapa tanah di cottages ini berpasir ya? Apa sengaja ngambil pasir dari pantai gitu biar suasana pantainya dapet.

Habis mandi, sekitar jam tigaan saya sewa sepeda karena ga punya SIM😛. Suasananya sejuk dan fresh. Senang sekali bisa bersepeda di Pulau Samosir. Saya melewati bukit rumput di mana para kerbau sedang memamahbiak di sana. Bukit rumput ini mirip tempat perang di film Naga Bonar. Mungkin emang shootingnya di mari. Pemandangannya bagus. Setelah 5km bersepeda, sampai juga di Tomok. Di sini ada pelabuhan ferry. Tempat wisatanya adalah kuburan raja apa gitu. Ada rombongan bule di depan saya. Saya ngikut aja😛. Pas si guidenya ngomong, eh ternyata pake bahasa Belanda. Jadi tetep aja ngga ngerti sejarahnya. Sebelum masik makamnya, turis harus mengenakan ulos sebagai penghormatan,

Habis dari situ, saya kembali ke cottage tapi sebelumya, cari makan halal dulu. Ada beberapa warung yang menjual makanan halal di Samosir. Setelah itu pulang ke penginapan menikmati pergantian siang menuju malam.

Jam 8 malam saya sudah tertidur, capek kali ya. Kalau bobo lebih awal biasanya kebangun dan baru tertidur dipaksain menjelang jam 12 malem. Horror bo, hujan, sepi dan sendirian😦. Mungkin kalo ga hujan, masih ada orang2 yang maen gitar dan nyanyi2 di pinggir danau memecah keheningan,

Besok pagi, seperti biasa, malas bangun. Namun mengingat harus bergerak ke Medan pagi-pagi, saya bergegas bangun dan sewa sepeda lagi ke daerah Siallagan. Di sana ada kampung raja Siallagan yang terkenal “kejam”. Lokasinya sekitar 5km dari cottage.

Saya masuk ke rumah orang Batak spesial di Pulau Samosir. Hanya ada satu ruangan untuk 4-5 keluarga. Ga ngerti gimana bisa cukup tuh di dalam rumah itu. Di tengah-tengahnya ada perapian. Di atas perapian disimpan kayu bakar, agar kayunya kering sehingga ketika dibakar ga banyak mengeluarkan asap. Di depan dan belakang atas ada tempat untuk menyimpan peralatan, Kalo di rumah raja, ada dipan sendiri untuk tidur. Di eksteriornya ada dua gambar apa gitu buat menolak guna-guna yang dikirimkan musuh. Ada juga ukiran empat payu dara yang berarti selalu memberi. Warna rumahnya hanya tiga yakni putih yang melambangkan alam atas, merah untuk alam sekarang dan hitam untuk akhirat.

Di depan kompleks rumah tersebut ada kursi pengadilan bagi penduduk yang melanggar aturan. Adapun aturan berat ada tiga yakni mata-mata, berzina dengan istri orang lain dan membunuh. Kalau melakukan pelanggaran ringan, hukumannyua dipasung. Sementara pelanggar aturan berat, bisa dihukum pancung.

Di area itu, ada tempat pemancungan. Untuk menyelenggarakan hari hukuman, dukun harus menentukan hari “baik” hukuman berdasarkan kitab. Di hari itu adalah hari paling lemah dari “ilmu” terdakwa. Sebelum dipasung, terdakwa harus terlepas dari ilmunya. Ada upacara khusus untuk mengeluarkan ilmu tersebut. Terdakwa harus bugil, guna memastikan ga ada jimat yang menempel di badannya. Terus dibalutkan ulos. Lalu dipersilakan melakukan “last supper”. Habis itu upacara melepaskan ilmu terdakwa. Kemudian dites dengan dipukul-pukul tongkat mantra dan ditusuk-tusuj pisau kecil. Kalau darahnya keluar berarti udah ilang ilmunya. Tes belum selesai sampai dikasih asam di atas tubuhnya yg berdarah. Kalau benar-benar udah ilang, dia bakal kesakitan. Jika dipastikan ilmunya sudah hilang, dipenggal lah kepalanya sampai putus. Jika sekali penggalan ngga putus, maka algojonyalah yang dipenggal.

Kepalanya disimpan di atas hidangan last supper tadi. Dadanya dirobek, hati dan jantungnya diambil lalu diiris-iris (tipis, dadu juga boleh). Kemudian sajikan dengan hidangan last supper tadi. Jangan lupa masukkan darah dr mangkuk tempat penampungan darah ketika dipenggal tadi. Hidangan sudah siap, raja memakannya. Kanibal bo’. Memakan organ manusia katanya bisa meningkatkan “ilmu” mereka.

Praktik kejam ini berlangsung hingga 18** sampai datangnya agama. Nonmensen merupakan misionaris yang menyebarkan agama Kristen di Sumatera Utara di abad 19. Sejak saat itu, dihentikanlah aktivitas pemanggalan tadi. Serem!

Setelah berkemas dan check out, saya naik kapal menuju Parapat. Sebelum naik bis di salah satu loket Sempurna, saya makan dulu di rumah makan Islam, nasi padang. Dari parapat kalo weekend tanya aa sembarang supir angkot di sana, lewat loket Sejahtera trayek Medan apa ngga?

Setengah jam sebelum maghrib, saya sampai di hotel Palace Inn di Jl. Mojopahit. Ngga recommended buat yg beli oleh2 malam2 karena ga ada kulkasnya. Tapi bagi yg ga butuh kulkas, recommended karena dekat bgt dg warung2 penjual Bika Ambon.

Malemnya, saya makan di Nelayan di kawasan Merdeka Walk. Di sekitar situ, ternyata ada SID Danareksa Medan🙂. Makan kenyang sendirian kepiting, kailan, sup jagung something, dimsum dan yg paling maknyus panekuk durian. Sebelum pulang saya pesan sebungkus buat dimakan di hotel.

Untuk ke hotel saya nyewa helicak dengan trek ke Masjid Raya dan Istana Maimun. Saya berhenti di Cambridge Mall. Gaya banget nama mallnya. Ke sana cuman untuk beli Green Tea Latte buat di hotel. Besok paginya langsung berkemas dan sebelum jam 6 udah jalan sekitar 20m ke toko Bika Ambon Zulaikha. Ga disangka ternyata orang2 udah pada ngantri di situ. Ckckck… Setelah dapet oleh2 sekardus, saya langsung berkemas singkat dan pergi ke bandara Polonia.

Menyenangkan ternyata trip lokal kali ini. Ga disangka aja, ternyata orang Batak dan orang Medan baik-baik juga. Apalagi pas di pesawat ngobrol sama dosen USU dan UNPAR lulusan Teknik Sipil ITB. Do’i ngajar Financial Market. Halah nyambung…

Demikian. Terimakasih udah mau baca😀

One thought on “A Back Up Trip: Lake Toba

  1. Wah, aku ngiri Mang. Aku orang Medan tapi belum pernah mengelilingi Samosir apalagi nginep di sana. Aku bahkan belum pernah naik bus umum ke sana. Biasanya sih rombongan bus besar atau mobil pribadi. Makanan di Medan asyik2 khan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s