#H-2: Tembok Besar dan Nasi Goreng Indonesia

Kamis, 5 Mei 2011

Tiba juga di hari terakhir nginep di hostel pertama. Setelah kemaren sore booking trip ke Tembok Besar China, inilah sekarang harinya. Kemaren saya pilih tour yang ke Tembok Besar China dan makam para Raja. Ada dua gerbang dari enam gerbang (sections) yang ditawarkan, yakni Mutianyu dan Simatai. Kalau ga salah saya pilih yang Mutianyu yang bukan hiking. Kalau yang mau hiking sebaiknya pilih Simatai aja dan jangan lupa bawa sepatu hiking. Waktu itu saya ga bawa sepatu hiking, daripada kaki bengkak di negara orang lain sendirian, mending pilih yang aman saja, begitu teorinya.

Pagi-pagi makan Museli dulu. Ternyata, dari penginapan saya, ada banyak yang ikut. Satu cowok setengah baya British dan satu cewek orang China Selatan atau daerah deket Macau situ deh. Bersama saya bertiga menuju ke gerbang Mutianyu. Sementara dua cowok dan satu cewek bule pergi hiking ke gerbang Simatai. Mobilnya ya tentunya beda dong…

Di mobil saya, udah ada tiga orang Chinese (ngga tau dari daerah mana), tiga cewek British. Dan kayaknya sepasang Perancis deh. Pemandu wisatanya cewek Chinese mungkin usianya waktu itu 30-32 tahunan deh. Logat Inggrisnya kocak, lucu banget, ngomongnya kayak salah satu anchor di CNBC.

She tried to explain what does she know regarding the Beijing tourism attractions as well as the Great Wall itself in English with many “ehm…” haha… Well, my English was not so good as well.

Sebelum nyampe di gerbang Mutianyu, si pemandu yang saya lupa namanya ini bilang ada kunjungan dari Perdana Menteri Australia yang cewek itu loh, karena di sekitar situ banyak militer yang berjaga-jaga. Oh untungnya bukan Jekardah, jadi ga ada macet di sono.

Kemudian si pemandu nanya jenis makanan yang akan dipesan setelah ber-Great Wall-an. Ada yang minta jangan pedas. Tapi saya langsung ngacung, “No pork please!”. Dan entah kenapa orang-orang pada ketawa… haha… They didn’t know that Moslems don’t eat the “piggy” things. Tapi untungnya ada salah satu cewek British yang sama. “Yes me too, no pork”. Terus ditanya sama si cowok British setengah baya betulkah? “Yes I don’t eat pork” jelas cewek itu. “Me too…” saya bilang… Haha… Terus si pemandu bilang, “OK. No one of foods offered in the restaurant is pork” Haha selamat deh saya. “Ok that sounds good!”

Di gerbang Mutianyu, untuk menuju ke Tembok yang berada di puncak bukit, menggunakan cable car. Yap benar sekali Tembok Besar China ini benar-benar dibangun di atas bukit. Ke mana puncak bukit itu mengular, di situlah ada Tembok. Ya tentu saja begitu, kalau ga dipuncak, ga bakal bisa lihat musuh (orang Mongolia yang terkenal sadis dan menaklukan sampai tanah India di kala itu) kalau mendekat dataran China. Kabut menyelimuti kawasan tembok besar China. Jadi jelek buat difoto karena saya berada di dalam kabut. Beda, kalau saya posisinya di luar kabut akan bagus ketika Tembok dimakan awan.

Cable car to Mutianyu section

Beberapa daearah masih ada yang alami. Udah ratusan tahun tentunya banyak yang udah rusak. Pemerintah China, merehabilitasi dengan adukan masa kini. Tapi kualitasnya China punya, keliatan bedanya. Sayang banget, padahal dibikin gimana caranya mirip banget dengan yang ratusan tahun lalu, pasti bisa lah. Ga beda sama di lokasi wisata di Indonesia, ada tukang dagang di dalam tembok itu. Tapi di Indonesia ga separah itu sih, di Candi Borobudur ga ada tukang dagang, tapi pas di luarnya doang. Ini di dalam tembok besar Chinanya ada. Tapi ga banyak sih. Lumayan kalau kehabisan minuman, haus bila beli di sana. Sebenernya ga boleh makan di sana, tapi ada romobongan China domestic yang ngampar ngariung botram. Rame banget lagi, macem di pelm-pelm China. Bukan cuman rame, tapi kayak orang Indonesia, nyampah pula…!!

Kemegahan Tembok Besar China ga bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ya begitulah. Silakan liat sendiri atau liat gambarnya aja langsung. Hehe… Pake lensa tele, saya ngeceng ke arah paling jauh di kanan dan di kiri. Gila… panjang bangettttt…!!! Malah ada yang naik bukit semacam tangga vertical gitu. Tapi saya ngga ke sana. Ga cukup waktunya, karena hanya dibatasi sampai jam 12 atau jam 13 aja. Daripada rombongan lainnya nungguin pan ngga enak.

Lihat! Sampai ujung bukit sana masih tembok… Tapi menuju sana mesti naik tangga yang nearly vertical itu loh…

Habis dari situ, keluar gerbang Great Wall turunnya pake Slidway, perosotan gitu, buatan orang Jerman. Seru juga… daripada harus turun tangga pake kaki…. Baru deh kami makan bareng di sekitar situ.

Slidway….!!!!

Di tempat makan, orang-orang cewek itu pesannya alkohol, mintanya sebotol kecil. Eh taunya dikasih sebotol gede. Mereka kaget botolnya segede itu… haha… “Gila kalau gue minum habis bisa mabok… haha…” Ya minumannya ga mereka habisin lah. Kalau saya minta teh panas pahit. Seperti biasa. Terus ada makanan beacon. Si pemandu itu bilangnya beacon. Si Graham, orang setengah baya Brisith itu, kalau beacon doang itu udah pasti babi. Kalau sapi mestinya disebutin “Beef Beacon”. Tapi si pemandunya bilang, ngga kok ini sapi bukan babi. Untungnya salah satu dari cewek British ada yang nyicipin. “OK lemme try this! *nyam-nyam-nyam… Ehm… It’s like a beef beacon.”

“Are you sure?” tanya cewek British yang ga mau makan babi.

“Lemme try once again. *nyam-nyam-nyam… I’m not sure what it is ‘cause I can’t distinguish whether it’s a beef or a pork. Haha… But I think it’s a beef.”

Baiklah, bismillah aja makan beef, kalau enak berarti babi. Haha… Dan ya lumayan lah rasanya. Enyak!

Qing Chi! (selamat makaaan!!!)

Habis makan, kami menuju ke makam raja. Makam raja China tersebar di seluruh Beijing. Ga deket Great Wall sih. Salah satu yang kami kunjungi adalah ga tau namanya… haha… maap. Tapi ini makamnya underground. Turun tangga berkali-kali. Di dalam udaranya cukup lembab, tapi ga lembab banget karena lagi musim dingin, kelembabannya teroffset dengan musim dingin yang kering yang bikin bibir saya pecah-pecah.

Ini propertinya para raja. Sebenernya makam rajanya bukan di sini tapi tersebar di wilayah Beijing

Masuk ke gerbang situ, ada upacara khusus. Menggerakan-gerakan tangan baru masuk. Dan saat keluar juga harus menggerak-gerakan tangan sambil bilang sesuatu dalam bahasa China. Gerbang itu membedakan wilayah kayu dan logam. Wilayah kayu itu buat negeri kematian, akhirat, sementara wilayah logam itu negeri kehidupan.

Gerbang… memisahkan alam akhirat dan dunia…

Awalnya males banget ngikutin apa yang orang ratusan tahun lakukan ketika melewati gerbang itu. Tapi tersadar setelah si Graham bilang, “Saya senang melakukan tradisi orang-orang jaman dulu”

“Why?”

“Because its like I live in the history and I do what the ancient people did. I feel like an ancient citizens and become part of history. I love it” kira-kira begitu kata si Graham.

“I couldn’t agree more.”

Hm… ide yang bagus bukan? Sejak saat itu, terinspirasi pemikirannya si Graham, saya jadi suka menjadi bagian dari sejarah.

Dari situ kami pulang ke kandang sore-sore. Sebelum check out. Saya sempatkan menikmati salah satu menu di hostel itu (yang makannya enyak-enyak banget), yakni NASI GORENG INDONESIA. Hahaha…. Nyam-nyam-nyam… nasi goreng pake telor, ga pake babi (tapi pasti alat masaknya campur dengan menu babi). Enyak!!!!

Indonesian Fried Rice

Saya minta izin check out ke pegawai situ dan berterima kasih sudah melayani saya. Kemudian saya dengan koper gede bersama para penduduk kota Beijing di rush hour menerobos Sub Way menuju stasiun deket Tiananmen Square, tempat penginapan kedua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s