#H-1: Kota Terlarang

Jum’at, 6 Mei 2011

Malam-malam nyampe di penginapan kedua yang sebelumnya sudah disurvey pake sepedah. Di sini, saya booking satu kamar hotel haha… like a sir! Cozy kamarnya. Di bawahnya ada café & bar gitu. Bau alkoholnya menyengat banget. Tapi saya malam itu makan burger dan kentang goreng di situ sambil buka MangBook. Hm… ga seperti di penginapan sebelumnya, makanan di sini ga maknyus. Ga enak. Mungkin babinya kurang…. Haha…

365 Inn

Bangun pagi. Bergegas jalan kaki ke Kota Terlarang. Di bilangan Kota Terlarang dan Tiananmen Square, ga ada jembatan penyebrangan maupun zebra cross. Pejalanan kaki, kalau mau nyebrang melewati kolong jembatan. Bagus. Ga merusak pemandangan kota.

Kolong peneyebrangan

Masuk ke Kota Terlarang ngantri. Ya iyalah… Luas banget. Ya iyalah… Didisain mengikuti fengshui naga. Di ekornya, pintu masuk, adalah air, di kepalanya adalah bukit atau gunung atau dataran tinggi. Karena di tengah kota Beijing ini datar. Jadinya, si arsitek sengaja bikin gundukan tanah di bagian kepala kota terlarang ini buat tempat tinggal raja.

Kota Terlarang

Semua bangunannya sama, ada gerbang dengan logam titik-titik warna emas. Sementara atap bangunan dijaga oleh patung binatang kecil-kecil. Singkat kata singkat cerita, selesailah sesi ambil gambar termasuk gambar sendiri pake timer.

Di dalam Kota Terlarang

Habis dari situ, pergi ke museum Beijing masih di sekitaran Tiananmen. Museumnya baru dibangun dan megah banget. Masuknya gratis waktu itu dan ngantrinya parah banget. Dalam hati, awas kalau museumnya jelek!!!! Dan dugaan saya sih emang ga terlalu bagus. Dan ternyata iya, masih banyak space kosong. Isinya pameran seni kontemporer. Ga terlalu tertarik waktu itu dengan jenis seni seperti itu. Pengennya sejarah.

Museum Nasional Beijing

Karena tadi ngantri lama, saya jadi ketinggalan shalat Jum’at yang tadinya pengen di masjid agungnya Beijing. Jaraknya bisa jalan kaki tapi agak jauh sih tapi kalau naik bis ga pernah, naik subway stasiunnya kejauhan juga.

Sepulang dari situ, di sisi lain Tiananmen, ada shopping area gitu, di tengah-tengahnya ada train. Bisa lewat situ untuk menuju penginapan. Ada Starbucks di sana dengan logo warna cokelat, bukan ijo loh. Keluarin kamera, jepret! Pas ngambil gambar gitu ada dua cewek mungkin SMP minta duit, haha… katanya kehabisan duit dari kampung. Tapi saya ga percaya kalau mereka kehabisan duit karena bajunya bagus. Kadang-kadang saya membiarkan terkena tipu bukan karena tertipu. Mungkin ini namanya menipu si penipu. Ga bagus sih. Saya bilang, “Are you hungry? Lemme treat you!” Mereka langsung senang dan nunjuk satu restoran cepat saji “Yess. Over there!” Whaaaat?!

Shopping Area
Starbak

Okay, after I treated them, I’d like to go back to the hotel and I told em, I’ll go. Tapi mereka insisted minta duit lagi, pulsanya habis mau nelpon ema sama abah di kampung, katanya. Lah I didn’t wannna give em money. As such I said em, “Tomorrow is my last day here. And I have to go home. My money is limited and it will be used to buy some stuffs for my parents and friends. So I’m sorry I can’t give you money, girls!” Tapi mereka keukeuh sureukeuh dan nanya saya nginep di mana. Dem! Sialan nih cewek! So I told em, “My hotel is not so far here. It’s over there!” sambil nunjuk jalan yang emang bener di sekitar situ. My scumbag brain malah ngasih ide buat ngajakin mereka ke hotel. Damn you brain! Saya pergi, mereka ngikutin. Takut! Di negeri orang. Gimana kalau mereka ngapa-ngapain, teriak misalnya, and then in no time some guys (of their gang) come up dan malak gue? Oh shit! Berdoa! Ya udah, saya bilang saya mau pulang ke hotel sekarang dan mau beli oleh-oleh. Saya ngaleos aja deh…

Setelah mandi dan istirohat sebentar, saya pergi ke Wangfujing pake subway. Nah 100 meter dari hotel ketemu mereka berdua lagi. Terus saya kagetin mereka pake Bahasa Indonesia (reflex aja pake Indonesian) ”Nah loh!”. And then I continued my walking and accelerated the pace. Takut!

Nyampe di Wangfujing ya seperti Orchard tapi lebih puguh Orchard di Singapura, yang dijual jelas. Di sini yang dijual ga jelas: jam tangan, parfum. Ah di sana beli aja dua baju China anak kecil cewek buat dua keponakan saya. Lucu loh…! Terus ya beli some stuffs there. Malamnya makan makanan di pinggir jalan tapi extreme. Ada sate kalajengking coba. Saya ga nyobain, males. Kata temen yang pernah kuliah di Beijing, pas dia cobain kalajengking, bibirnya panas dan efek-efek negative lain lah di badan. Saya harus jaga kesehatan, harus sehat dan fit di sana. Sendiran bo!

Suasana Wangfujing

Saya beli sate buah-buahan yang dibalur air gula di stall yang ada tanda Halalnya. Terus si tukang dagang tanya “Where do you come from?”. “I come from Indonesia, Sir”. “Oh… Terima kasih!”. Saya bengong sebentar, what dafuq did he say? Haha… Ternyata bisaan juga nih tukang dagang ngambil hati pelanggannya.

Extreme Culinary

Setelah dari situ saya pergi ke South Station yang menghubungkan jaringan Subway downtown Beijing dengan kota Tianjin buat beli tiket buat besok pagi. Belajar dari pas ke Beijing, ga dapet tiket, saya harus beli malam ini, ya mengingat juga jadwal flight yang takut ketinggalan.

Habis dari situ saya pulang dan makan lupa makan apaan yang ga enak juga. Ga worth buat diingat pula. Setelah mandi, di kamar nyalain tipi China berbahasa Inggris. Rupanya China lagi shortage listrik buat industrinya yang lagi berkembang di mana-mana. Menjelang jam dua belas malam waktu setempat, saya tiduran dan seperti biasa, refleksi di jam ulang tahun, apa yang telah dilakukan, apa yang harus diperbaiki, dan apa harapan ke depan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s