Leveraging The Limitation

Kayak orang gila pas nonton Kick Andy ketika Andy interview Gayatri @WailisaGayatri yang bisa sebelas bahasa dan juga memiliki pemikiran yang lebih dewasa dari orang yang sudah dewasa. Padahal usianya masih SMA. Bahasa tubuh dan gaya ngomongnya… manner banget dan incredible!! Bangga plus terharu, juga senang ketawa dan tepuk tangan. Koplak eh? Nonton 1 liter of tears ga bikin saya meneteskan air mata. Beda, kalau bangga dengan kesuksesan orang lain, saya bisa terharu biru…

Dia bilang cara belajar bahasa ada tiga: belajar dari buku, ngomong di depan cermin dan nonton pelm atau lagu menggunakan bahasa tersebut, diskusi dengan native via internet (eh ada empat ya, au ah!).

Dia orang daerah. Tepatnya Maluku, brooo… Maluku adalah daerah dengan PDRB per kapita terendah di Indonesia. Bisa dibilang secara kasar, provinsi termiskin di Indonesia. Di dearah gini, bayangkan aja ada ga sih buku-buku pelajaran bahasa asing dari sebelas negara? Kalaupun ada, apakah bisa mendukung proses self-learning-nya?

Momen yang paling menyentuh pada saat Kick Andy menayangkan kehidupan sehari-harinya dan keluarganya. Rumah orang tuanya broooo…. Sederhana banget. Banget! Anak jenius ini duduk di lantai ruang tengah yang well… sempit bro! Lalu buka laptop terus dia ngomong di depan cermin yang disenderkan ke dinding. Jadi sambil buka laptop bisa langsung ngelirik ke cermin sambil spelling. Sambil buka laptop juga, sambil diskusi sama orang native via internet.

Nah, sekarang di daerah “termisikin” ini, bisa bayangin ngga gimana koneksi internetnya. Di Ibu Kota Negara aja, bahkan di wilayah ring satu, banyak yang ngeluh dengan koneksi internet, gimana lagi di Maluku sono… Di Jakarta ngeluh juga dipake buat apaan sih? Mostly ga produktif. Beda, cewek smart ini bisa me-leverage koneksi internet untuk meningkatkan kemampuan bahasanya. Nah bisa dibayangkan kan bagaimana kalau keluarganya berkecukupan?

Senior saya di kampus, orang tuanya bisa dibilang kaya. Hampir setiap mata kuliah, kata temen kuliahnya yang sekarang jadi Chief Economist Danareksa Research Institute, dia beli buku tambahan sebagai bahan tambahan referensi. Hasilnya, ya jadinya lebih pinter dibandingkan temen-temen lainnya yang hanya mengandalkan dari buku referensi Perpustakaan. Orang ini adalah Prof. Roy Sambel. Salah satu temen saya juga, memanfaatkan “kecukupuan” orang tuanya untuk me-leverage kemampuannya. Dia sudah jadi PhD di Adelaide, Risti Permani. Mungkin, ga banyak anak dari keluarga berkecukupuan yang bisa outstanding dalam hal pendidikannya. Hal ini yang bikin saya kagum dari Gayatri. Hanya dengan fasilitas yang terbatas, dia bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan kemampuan dirinya di level top dunia.

Orang tuanya pasti bangga. Atau bahkan, kayak bokap gue, pas saya nulis tentang ekonomi dan pasar modal di koran, dia ga ngerti sama sekali bahasan di tulisan saya. Bapaknya Gayatri ini pembuat stempel yang “tempat kerjanya” di trotoar pinggir jalan. Mungkin kegiatan Gayatri yang bergaol di dunia internasional ga dimengerti bokapnya. Tapi… I believe, bapaknya ga pernah mengarahkan dia biar jadi apa dan melarang kegiatan apapun. Instead, mendukung apapun yang menjadi passion anaknya. Gatau sih itu asumsi saya aja.

Nah itu yang bikin saya jadi penasaran: bagaimana sebenernya orang tuanya mendidik anak menjadi such a genius girl!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s