Hong Kong dengan Pemandu Wisata

Berkunjung ke Hong Kong di 21-24 Oktober 2014 ini melengkapi “moda” trip yang saya alami, mulai dari rombongan banyak, rombongan sedikit, berdua, sendiri dan kali ini menggunakan pemandu wisata. Enaknya, sampai hari H-1, saya ga tau bakal nginap di mana, pergi ke mana, petanya di mana dan ongkosnya berapa. Saya bisa focus ke kerjaan.

Hari pertama, setelah berkumpul dengan rombongan kantor dan para klien, saya terbang menggunakan baju Superman. Mendarat di Hong Kong International Airport, pemandu Indonesia yang namaya Putra ditemanin pemandu local yang namanya Silvie, orang Hong Kong asli berbahasa Indonesia sangat fasih – rupanya ibunya orang Bandung dan cuma bisa ngomong Sunda: “kumaha” (jadi inget temen gw yang orang Situbondo, kata Sunda pertama yang dia bisa juga “kumaha”).  Dari bandara, kami langsung naik ferry menuju Macao untuk berjudi, hahaha….

Karena penumpang kapal ferry yang orang China ini berisiknya minta ampun dan lari-lari cari tempat duduk kayak takut ga kebagian kursi, saya pasang earphone dengan music Queen dan Gun n Roses, tiba-tiba suasana jadi damai. Lebih parah ya dari orang Indonesia kelakuannya. Hahaha…

Di Macao, ada pemandu local lain, namanya Ayu, cewek Jawa yang kira-kira sudah lima tahun kerja di Macao. Nyampe The Venetian, hotel plus mall plus tempat judi (di Macao semua hotel bintang lima ada tempat judinya kecuali hotel Intercon), kami langsung makan di Indian restaurant. Di samping restoran ini ada outlet Victoria Secret. Heuheu…

Hotelnya gede banget dan kamarnya sangat luas tapi sayang kamar saya bareng salah satu klien dapet single bed. Guling jadi batas teritori kami. Sekitar jam setengah dua pagi, saya dengar roommate buka pintu dan ngobrol sama cewek. Saya curiga nih, jangan-jangan si cewek nawarin jasa. Haha.. Saya tidur aja deh. Pagi-paginya dia cerita, iya ada cewek muda Chinese kayak salah ruangan gitu, ketuk-ketuk pintu buat nawarin jasanya. Gawat juga, kalau roommate gw ini terima jasa dia, saya harus tidur di toilet. Heuheu…

Di Macao lumayan ada historical sitenya, seperti Aama Temple yang baru masuk UNESCO heritage (dan tiba-tiba jadi ramai), makan egg tart yang terkenal, lalu ke gereja yang dulu kebakar menyisakan dinding depan. Di situ ada Starbucks yang di papannya ada tulisan free WiFi eh ternyata engga ada wifi malahan. Bohong ah.

Setelah maksi Chinese foods, kami langsung ke port buat nyebrang kembali ke Hong Kong. Di ferry, Putra ngitung rombongan dan rupanya kurang satu orang. Dia buka papan data, dan mengecek satu-satu. Di saat dia lagi ngecek, banyak penumpang lain, orang China atau Hong Kong, yang tanya letak kursi, menganggap putra adalah awak kapal. Tapi Putra dengan baik hati nunjukin kursinya. Setelah dicek, ketahuan nama satu orang ini. Putra cari-cari dia di seluruh kapal.  Pas mau sampai, baru ketemu satu orang ini, nomor kursinya misah, lagi tidur ditutupin pashmina. Selamaat…

Nyampe Hong Kong, pemandunya kembali lagi Silvie. Lalu kami mengunjungi BCA Finance Limited atau kantor perwakilan BCA di Hong Kong. Letaknya di dalam financial district (di setiap kota, financial district itu biasanya yang paling keren) di bilangan Central jalan Queen Road. Di situ ada dua patung bulls tapi rada gemukan ya… heuheu…

Harusnya di situ ketemu Felix, anak yang pernah magang di Research SQ, yang sekarang lagi sekolah di HKU tingkat akhir. Tapi dia ga keburu. HK lagi macet-macetnya karena beberapa ruas jalan ditutup gara-gara demo yang dipimpin oleh mahasiswa berusia 17 tahun (nonton film dewasa aja dia belum boleh). Jadinya, ketemu Felix di ladies market, pasar buat oleh-oleh. Di situ ternyata, tawar menawar pake bahasa Indonesia aja. Bahkan ada tulisan seperti “Silakan dicoba tapi plastiknya jangan dibuka” dalam bahasa Indonesia. Di situ, kita ga bisa turunin harga tapi naikin kuantitas. Misal, HKD100 untuk 5 unit, bisa ditawar HKD100 untuk 8 atau 10 unit.

Dari situ, makan malam Chinese food lagi dan dikasih kejutan sama tour agency sebungkus cokelat (yang katanya mahal juga). Jam delapan malam ke Avenue of Stars, melihat atraksi cahaya musical dengan pemandangan gedung Hong Kong dipisahkan satu selat. Keren tapi membosankan. Lalu check in Hotel di L’Hotel Nina di bilangan New Territories. Malamnya jalan-jalan di mall yang terkoneksi ke hotel. Rupanya di Hong Kong, bangunan-bangunan terkoneksi gitu.

Paginya jalan-jalan Hong Kong, pertama ke Victoria Peak. Macet kayak ke puncak. Di situ pemandangan hutan beton HK keliatan semua. Tapi sayangnya lagi berkabut. Lalu ada Madam Tussaud dan di tempat yang sama ada Peak Market, belanja souvenir lagi. Habis dari situ, semua tourist wajib mengunjungi jewelry shop oleh government nya dan ke toko cokelat, kayaknya ini kerja sama dengan tour agency. Dari situ, orang-orang belanja di toko-toko branded di Tsim Sha Tsui yang mahal ya jadi saya ga tertarik. Rupanya, setelah ini acaranya adalah presentasi Market Outlook oleh saya. Heuheu… Tadi kan saya bilang, saya gatau apa-apa, sampai acara sendiri aja ga tau kapan. Jadinya, di saat yang lain ngabisin duit di Tsim Sha Tsui, saya balik ke Hotel buat bawa print out materi presentasi untuk dibagiin. Makan malam terakhir adalah bebek peking, sebelum makan, saya presentasi dulu di depan klien investor. Alhamdulillaah lancar dan senengnya ada satu yang bilang, bagus… Heuheu…

Malamnya, bareng Yoga, Head Research BNI AM, jalan ke Lan Kwai Fong, sejenis Jalan Jaksa kalau di Jakarta mah. Tapi di situ, bule-bulenya banyak yang rapi pake dasi jas gitu karena letaknya di deket financial district. Rada kaget dan aneh, ada bule yang out of the blue, minta kami difoto. Tau kami bingung, dia jelasin kenapa pengen moto kami berdua, karena saya pake baju Green Lantern dan Yoga pake baju United Federation of Planets.  “You’re wearing Green Lantern and you’re Star Trek. It is awesome!” Dia pake hape Xiaou Mi, moto kami, jepret! Rupanya dia nerd dan kami berdua baru sadar, kalau kita ternyata awesomely nerd, hahaha….

Balik ke hotel cobain skywalknya HK yang meninspirasi Kang @ridwankamil buat bikin juga di Bandung. Enak juga jalan di atas: luas, ga takut ketabrak mobil, ga ada tukang dagang (well ini kan HK), ga ada intersection dengan jalan mobil, jadi ga perlu nungguin lampu merah buat nyebrang dan yang paling keren, gedung-gedung di sana udah akomodir keberadaan skywalk ini. Jadi kayak di lantai dasar aja, ada taman dan ya ga kayak di atas. Saya waktu itu masuk ke gedung bursa Hong Kong lewat skywalk. Di situ juga ada dua patung bulls yang lagi maen air. Lalu kami masuk ke stasiun MTR dan turun di MTR deket hotel melalui lewat taman.

HK punya banyak taman. Taman yang deket hotel ini bisa dibilang taman fitness (Bandung sekarang baru punya). Ada lajur jogging track juga. Tapi di situ, sepeda ga boleh masuk. Ya di HK ga pernah liat orang pake sepeda dan sedikit banget yang pake sepeda motor. Di Beijing, jalur sepeda bisa sama luasnya dengan jalur mobil. Mobil, bensin dan tempat parkir di HK mahal. Tempat parkir aja harus booking dari satu atau dua hari sebelumnya saking sedikitnya tempat parkir. Gile ya… Tapi ya mobilnya banyak yang bagus. Yang aneh sih Macao ya. Ga ada pajak gitu. Malah pendukunya dikasih duit sama Government nya hasil dari keuntungan judi. Tapi… mobilnya biasa aja, ga beda sama Jakarta. Padahal di kita, harga mobil bisa dua atau tiga kali lipatnya.

Di HK jarang banget liat orang pegangan tangan gitu, beda banget sama Beijing. Tapi pas di taman malam-malam, ya banyak yang mesum juga. Tapi kasian sih sama orang Hong Kong, kata Silvie, hampir setengah kekayaan HK dikuasi satu orang. Males banget, penduduknya kerja buat dia doang. 99% penduduk HK tinggal di apartemen. Hadeuh… Makanya orang-orangnya rada kasar, karena udah stress nyari duit dan jarang yang pegangan tangan.

Besoknya, ke mall City Gate di Tung Chung deket bandara. Di mall ini barang-barang branded yang udah kadaluarasa, ah tapi banyak juga yang baru, didiskon. Lumayan loh diskonnya. Nah, di sini baru deh semangat belanja daripada di Tsim Sha Tsui. Hehehe…\

Habis duit, baru deh pulang koprol ke bandara. Selesai. Foto-foto ada di IG dan G+.

Suka sama pemadunya, Putra, orang Bekasi yang curcol kenapa pada ngebully orang Bekasi dan dia malah nyanyi dan peragaan busana di dalam bis, hahahaha… Silvie juga nyanyi Chinese di hari berikutnya. Thanks ya Panorama, ec-tour dan BCAS.

One thought on “Hong Kong dengan Pemandu Wisata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s