Bersama Rakyat

Keluarga saya dibesarkan oleh orde baru. Baik dalam hal ekonomi maupun dalam hal pemikiran. Ketika orde ini tumbang, rasa simpati masih sangat kuat, termasuk dan tidak terbatas pada ketidaksukaan terhadap sosok proklamator Bung Karno. Beliau dipersepsikan Komunis dan keluarga kami percaya. Nasakom, kombinasi yang tidak mungkin tapi dipaksakan. Gagasan ini tidak bisa diterima, mengingat latar belakang keluarga dengan Islam NU tradisional sejak jaman penjajahan yang kuat. Sehingga kami selalu malas dengan orang yang menjadikan Bung Karno sebaga bahan jualan politiknya.

Saya sudah lama punya buku otobiografi Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Karena 17Agustusan tidak ada kegiatan, dengan malas saya buka plastik buku tersebut dan mulai membacanya. Dalam dua hari setengah, saya menyelesaikan buku  yang diterjemahkan dari bahasa Inggris yang ditulis oleh Cindy Adams. Selain memang pada dasarnya kisah Bung Karno sangat kaya, mungkin gaya menulis Cindy ini yang menjadikan mata saya sangat lekat dan tidak mau ketinggalan satu kata pun untuk dibaca. Bisa dikatakan, saya seperti membaca novel fiksi, banyak kejutan di dalamnya yang bikin lucu meskipun dalam keadaan menegangkan. Saya tebak mungkin sosok Bung Karno memang orang yang periang, bukan yang serius terus macam di film-film dengan musik yang terus menegangkan urat nadi.

Saya ternyata sangat cocok dengan pemikiran dia. Seorang yang terbuka terhadap ide liberal Barat (Amerika Serikat) dan bahkan Komunis. Berulang-ulang dia bilang bukan komunis tapi media barat selalu mengecap dia Komunis hanya karena tidak pro barat. Padahal paham dia berada di tengah-tengah. Sebuah paham yang lahir dari akar bangsa sendiri bukan dari Soviet dan Barat. Dia merupakan muslim yang kuat didikkan Cokroaminoto dan sebagai hasil penjara Banceuy dan Sukamiskin yang membuat dia semakin dekat kepada Allah. Penjara ini bikin orang semakin tertekan. Kalau mental kamu lagi turun dan kesusahan, ingatlah Bung Karno mengalami yang lebih parah dan dia berhasil bertahan dan keluar dengan keimanan yang meningkat. Dia memikirkan rakyat kecil yang diberi nama Marhaen, seorang petani di Bandung yang mewakili rakyat yang punya tanah sendiri, peralatan sendiri, berusaha sendiri, hasilnya digunakan untuk makan sendiri, tidak ada kelebihan untuk dijual tapi masih sangat kekurangan. Dari dasar inilah dia berjuang untuk orang-rorang Marhaen.

Jelas sekali yang diperjuangkan Bung Karno adalah untuk mereka. Mulai dari mengusir penjajah, simbol peci nasional, seragam gagah, sampai pembangunan semesta. Pembangunan semesta ini orang-orang bilang proyek mercusuar. Tapi, saya mendukung Bung Karno dalam hal kalau mau bikin bangunan, bikin yang nomor satu, seperti Gelora Bung Karno, yang saat itu adalah stadion pertama di dunia yang atapnya melingkar. Jadi bisa dibanggakan. Wajar sih, karena dia orang seni dan arsitek. Coba lihat bangunan-bangunan pasca Bung Karno, ga ada yang bisa dibanggakan. Terakhir, baru dibuka Terminal 3 yang bukan paling bagus di dunia, orang-orang Indonesia bangga. Jakarta juga sedang bangun MRT tapi di Blok M aja udah naik ke atas. Apa yang bisa dibanggakan coba?

Dibalik keagungannya, Banyak kisah lucu dan mengejutkan yang bisa bikin ketawa, terharu, sedih, gembira, geram dan bangga, jika kamu membaca buku ini.

Dia mendapat tugas untuk mencarikan jodoh bagi 200-an jomblo.

Kalau lagi bikin pementasan, dia menjadi pemeran cewek karena sangat sedikit cewek yang bergabung.

Dia pacaran sama cewek-cewek Belanda guna menunjukkan orang Indonesia bisa melebihi Belanda. Suatu saat, dia ingin melamar cewek yang sangat dicintainya tapi dibentak dan dihina oleh ayahnya yang Belanda. Hancur sekali hatinya. Bertahun-tahun kemudian dia ketemu lagi cewek ini, ternyata dia tidak mengenalinya karena sudah gendut dan jelek. Dia bersyukur atas perlindungan yang diberikan Tuhan Yang Maha Pengasih waktu itu.

Dia mendapatkan pengawasan terus menerus dari polisi Belanda. Kemana-mana diikuti terus. Dia genjot sepeda sampai jauh lalu lari di pematang sawah. Polisi ini harus mengikuti dia tapi dilema, sepedanya ga bisa ditinggalkan begitu aja di pinggir jalan tapi dia ga bisa jauh dari Bung Karno. Akhirnya polisi ini memanggul sepedanya di pematang sawah mengejar Bung Karno sampai beberapa kali kakinya terpeleset dan terjebur ke sawah. Iseng banget. Haha…

Di pesawat yang tidak ada pengatur udaranya, dia kebelet pipis. Lalu disuruh pipis di pojokan dekat lubang angin. Tiba-tiba anginnya berhembus dan seluruh penumpang bermandikan air “seni”.

Malam-malam, waktunya tidur di kamar ruah Pak Cokro, dia baca banyak buku politik. Ketika membaca bagian pemimpin yang sedang berpidato, dia menirukannya dengan berkhayal di depan dia adalah kyalayak ramai ribuan. Penghuni kamar lainnya liatin dia, kalau kata anak sekarang mah, “Ngapain lu? Udah tidur-tidur!”

Saya sangat jatuh cinta pada Bung Karno. Saya akan minta keluarga saya untuk membaca buku ini, agar ketidaksukaan mereka terhadap Bung Karno berbalik menjadi kebanggaan dan rasa syukur jika Indonesia pernah memiliki seorang pemimpin setaraf Bung Karno.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s