Pulau Alor

Saya berlibur ke sebuah negara di Timur Jauh. Pada malamnya, saya menikmati kehidupan malam di kota yang penduduknya hampir tiap malam minum. Saya tidak sadar.

Besoknya saya terbangun di sebuah kamar di bibir pantai. Saya langsung mengingat-ingat bagaimana saya bisa ada di sini. Apa yang telah terjadi? Saya takut kaalu saya sekarang sudah berpindah negara karena melakukan keanehan semalam. Saya langsung buka paspor dan mengecek stempelnya, untuk mencari tahu berada di negara manakah saya sekarang. Saya menemukan bahwa saya sudah keluar negara tersebut dan masuk di negara lain. Ini bukan cap imigrasi pulang ke Indonesia. Ini negara lain. Saya tidak dideportasi. Di manakah saya?

Saya keluar rumah dan menemukan tulisan di mobil yang lewat. Ini aksara kanji dan mirip tulisan Thailand tapi bukan aksara Thailand. Apakah ini di Korea? Tapi bukan. Tulisannya saja bukan Korea dan orang-orang di sini tidak berbicara Korea. Saya tidak mendengar jelas bahasa mereka. Saya terus berjalan dan melihat beberapa anak muda dengan hobi yang sama berkumpul di taman dekat kampus. Saya juga tidak mengerti mereka ngobrol dengan bahasa apa.

Saya menaiki tangga untuk melihat tulisan di papan pengumuman kampus. Ada poster pertunjukan Aiko dalam aksara kanji. Ada juga pengumuman dalam aksara latin. Sebelum saya membaca pengumuman dalam aksara latin tersebut, saya mendengar dengan jelas bapak-bapak berbicara bahasa Indonesia sedang bilang ke anak perempuannya.

“Hati-hati turun tangganya. Pelan-pelan aja!”

Saya lalu mendekati mereka. Namun tidak sempat bertanya. Karena, si bapak langsung menggendong anaknya turun. Saya melihat sekelompok anak muda sedang berlatih kesenian sambil mengobrol menggunakan bahasa Jepang.

Saya turun tangga dan melihat ibu-ibu dengan anaknya. Saya yakin mereka bisa bahasa Indonesia.

“Bu, boleh tanya. Ini di mana ya?”

Si Ibu sedang sibuk mengurus anak perempuannya, tidak menjawab pertanyaan saya. Saya mengulangi pertanyaan dan tidak peduli si Ibu sedang sibuk. Saya harus tahu, saya sedang ada di mana.

“Bu, saya sedang di negara apa ya? Ini di mana?”

“Di mana? Ya di sini,” jawab si Ibu kebingungan sambil sibuk mengurus anaknya.

“Ini negara apa, Bu?”

“Indonesia”

“Hah Indonesia? Indonesia mana?”

“Pulau Alor”

Saya pernah dengar dan baca Pulau Alor tapi lupa ada di mana. Mungkin ada di sebelah utara Indonesia dekat laut China Selatan. Makanya, ada campuran Jepang dan mungkin Indochina. Kok saya baru tahu ada pulau dengan penduduk campuran begini. Ini seru banget. Seperti sebuah negara pulau di Afrika yang campuran tiga perbedaan.

Saya menebak-nebak kalau saya dideportasi ke wilayah Indonesia yang paling dekat. Mungkin, agar biaya deportasinya murah.

Si Ibu sibuk dengan dirinya sendiri sambil berjalan pulang ke rumahnya. Saya mengajak ngobrol anaknya saja. Dia mengingatkan pada keponakan saya yang baru lima tahun. Saya tanya dia, dia malah lari seperti ingin bermain dan malu sambil teriak ke Ibunya, “Mamah, ayo!”

Saya kejar dia beberapa meter saja. Lalu saya berhenti takut disangka kriminal. Saya lihat si Ibu masih sibuk dengan dirinya sambil berjalan agak cepat.

Pagi-pagi saya keluar kamar lalu buka ponsel untuk mencari Pulau Alor. Google memberi tahu kalau Pulau Alor ada di provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya jadi teringat teman yang ada dekat situ. Saya ambil minum dari dispenser untuk diminum. Lalu ambil handuk untuk mandi sekalian gosok gigi. Saya lapar tapi malas makan. Buka kulkas, ternyata menemukan seonggok Chitato.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s