Inkonsisten

Perdebatan ga penting karena Ahok bilang ada orang yang membodohi masyarakat menggunakan alQuran untuk ga milih dia di pilgub DKI, kira-kira begitu, menguras energi masyarakat. Masalah ini sangat sempit untuk diperdebatkan. Masalah yang lebih besar, menurut saya, adalah pemimpin tidak menjadi sumber masalah bagi rakyatnya. Artinya pemimpin itu di antaranya harus bisa jaga mulutnya. Jangan jadi pemimpin yang ketika dia pidato, rakyatnya was-was, bakal ada apalagi nih? Seperti Duterte, rakyat Filipina mungkin ada yang was-was juga, ngomong apalagi nih Presiden gue di pergaulan internasional?

Yang membelanya, Nusron, bicara sangat mengesankan. Tapi tidak buat saya. Logika dia inkonsisten. Saya tidak dalam posisi membenarkan atau menyalahkan. Kira-kira begini, alQuran itu multitafsir, yang tau yang benar hanyalah Allah dan RasulNya. Jadi kalau ada orang menaganggap “wali” dalam al-Maidah 51 itu pemimpin, belum tentu benar, jadi ga bisa orang memperkarakan Ahok. Logika kedua adalah yang terbaik itu muslim masa Rasulullaah, semakin ke sini, semakin menurun, gitu kira-kira. Terus dia bilang di masa khalifah XYZ, dia angkat gubernur Kristen taat.

Sebelum kamu lanjut baca, coba jawab, “Kalau orang pintar, minum tolak angin” terus orang bodoh minum apa? Kalau kamu jawab “orang bodoh, ga minum tolak angin”, maka jangan lanjutkan baca tulisan ini, percuma. Yang jawab, “orang bodoh terserah dia minum apa aja, mau minum tolak angin juga gapapa, bebas!”, silakan lanjut.

Oke, nah, logika Nusron ini, coba deh terapkan ke Ahok. “Wali” di al-Maidah 51 artinya bukan pemimpin, belum tentu benar, karena yang tahu benar hanyalah Allah dan RasulNya. Kemudian kalau ada orang yang menggunakan ayat ini, untuk ga milih Ahok, adalah pembodohan. Nah, berdasarkan logika Nusron, Ahok juga salah. Karena multitafsir, Ahok ga boleh bilang pembodohan. Tapi Nusron, ga nyalahin Ahok kan? Padahal ini logikanya dia. Tapi diterapkan secara inkonsisten. Untuk logika kedua, masa Rasulullah sampai sebelum masa khalifah XYZ itu adalah lebih baik daripada masa khalifah XYZ. Di masa Rasulullah, masa terbaik, gaada gubernur non-muslim. Nusron blunder.

Demikian. Mohon catat, saya sedang bahas logikanya Nusron, bukan benci Ahok atau Kristen. Rasulullah (dan saya tentunya) sangat berterima kasih sama kebaikan Raja Ethiopia yang Kristen, telah melindungi para sahabat saat hijrah pertama. Berbeda tapi damai, tentu indah, daripada berbeda dan berselisih.

Si Ohim, teman kantor saya yang suka muncul di blog sebelah, sih ga lanjutin baca, karena dia keukeuh kalau “Kalau orang pintar, minum tolak angin itu” setara dengan “Kalau orang bodoh, ga minum tolak angin”. Saya suruh baca lagi pelajaran SMA kelas satu, tapi dia embung, gengsi katanya. Yasudah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s